Kamis, 17 Januari 2019

Amal Talekang versus Amal Saleh



Hasil gambar untuk gulungan lontara



Ada yang baru pagi ini, sebaru dan seberbeda hari ini. Setidaknya ada penemuan baru terkait ketersambungan budaya khususnya bahasa, rasa-rasanya. Iyya, berangkat dari sebuah kata yang sering diucapkan, namun sedikit mengambang pemaknaannya selama ini. Meski hanya sehelai kata tapi ia adalah pembentuk kalimat sekaligus pembangun wacana  yang menjadi suatu unsur penting budaya dan agama sekaligus.  Barulah sedikit tersingkap kini.  Eureka.

Cocoklogi ini terjadi ketika tengah sahdu mendengar pembahasan tentang tasawuf praktis atau irfan amali, bab tentang taubat, dari seorang Ustad yang dua puluh tahunan menuntut ilmu di Asia Barat sana. Beliau menjelaskan tentang 3 ciri pembentuk manusia, yaitu pertama, mari’fat (pengetahuan) versus kebodohan; kedua, keimanan versus kekufuran; ketiga, amal shaleh versus amal thalih (talek).  Sangat panjang lebar rasanya kalau saya hendak menjelaskan paparan beliau, apalagi memang pembahasan tentang tema ini, bab taubat saja misalnya, idealnya sampai tiga hingga lima kali pertemuan. Takutnya juga akan mendistorsi penjelasan beliau. Lagi pula fokus saya bukan pada bahasan tema tersebut, tapi berangkat dari salah satu penjelasan beliau yang memicu dan membuka relung cakrawala baru.
Sebongkah kata yang bikin penasaran itu adalah kata talek (thalih) atau tale-talekang  dalam bahasa Makassar. Kenapa menjadi menarik, minimal bagi saya sendiri, adalah ternyata kata tale atau thalih adalah lawan dari kata shalih atau shaleh. Artinya, kedua kata ini memiliki akar kata  dari bahasa Arab. Bedanya, kalo kata saleh sudah begitu gamblang kalau itu memang dari bahasa Arab yang memilki arti : baik, terpuji  dan semacamnya. Tapi kata talek atau talekang yang memiliki arti buruk atau jelek,  saya hampir yakin, kalau kata itu dianggap sebagai kosa kata bahasa Makassar ‘asli’ belaka atau setidaknya tidak terpikir kalau itu berasal dari bahasa arab juga. Ternyata tidak.
Begitulah orang-orang Indonesia, termasuk orang Makassar, Bugis,Mandar dan lainnya sangat terkesima pada Islam  sampai-sampai sulit membedakannya dengan budaya arab termasuk bahasa Arab itu sendiri, hingga begitu banyak ditemukan  kosa kata Arab dalam bahasa-bahasa lokal ini seiring diterimanya Islam sebagai agama, bahkan pemberian nama pun sangat mudah dijumpai, termasuk nama saleh. Dan barangkali juga kata salewangang yang berarti baik atau sehat juga berasal dari akar kata saleh. Sebagaimana sekarang digunakan sebagai jargon dari salah satu kabupaten di SulSel—Maros Butta Salewangang.
Bagi penutur bahasa Makassar atau setidaknya mereka yang tinggal di kota metro Makassar, kata tale atau talekang, tentu, sangat akrab didengar bahkan kerab diucapkan dalam pergaulan sehari-hari.  Walaupun makna dan konotasinya tidak sama persis dengan bahasa aslinya. Perilaku atau perbuatan tale atau talekang dalam kacamata orang Makassar memang merupakan sesuatu yang kurang terpuji di satu sisi, tapi juga bukan merupakan suatu tindakan yang bertentangan secara diametral dengan perbuatan saleh. Talekang lebih bermakna sebagai suatu keusilan  atau tindakan berlebih-lebihan. Sebagaimana juga 'tallewa' atau 'tallewa-lewa'  juga merupakan turunan dari kata 'thalih' yang bermakna 'berlebihan' atau 'berlebih-lebihan.'
“Dia memang talekang skali”, “kau kenapa tale sekali ko ka?”, “Jangan ko talekang begitu”. Itu beberapa contoh ujaran kalimat yang sering kita dengar, yang menandai sebuah perbuatan yang tidak sepantasnya dilakukan atau sebuah tindakan yang berlebihan. Sebagai contoh perbuatan menggoda perempuan. Maka si lelaki biasa disebut talekang. Atau tindakan seseorang yang mengusili orang lain yang tidak sepantasnya dilakukan. Ia pun bisa disebut talekang. Atau perilaku pengendara di jalan  raya yang kebut-kebutan atau tidak memedulikan rambu lalu lintas, bisa juga disebut tallewa-lewa. Dan banyak contoh lainnya.
Kata tale atau talekang ini cendrung bermakna lebih halus, barangkali antara perbuatan baik dan buruk tapi lebih menjurus kepada perilaku taleh atau buruk. Karena orang Makassar sendiri mengartikan amal saleh / baik sebagai amala’ baji dan kebalikannya amal taleh (buruk) sebagai amala kodi’. Jadi tidak serta merta menerjemahkan amal taleh (buruk) menjadi amala talekang tapi amala kodi’. Ini yang mengherankan.  
Ini berarti bahwa kata thalih sudah diserab dan diadaptasi sedemikian rupa dalam bahasa Makassar karena telah mengalami sedikit pergeseran makna. Bisa dipastikan juga kalau kata ini hanyalah salah satu dari banyak kata lain yang menyusup atau dengan sengaja atau tidak sengaja disusupkan kedalam bahasa sehari-hari kita. Ini semua tidak lepas dari kerja-kerja cerdas para panrita dan ulama  terdahulu dalam membangun kedalaman pemahaman Islam yang betul-betul dapat menyatu dengan budaya lokal. Akulturasi inilah yang menjadikan Islam lebih terhayati manakala ada keterpaduan antara Islam itu sendiri dengan adat kebiasaan setempat, termasuk bahasa.
Sebagai contoh lain, sebut saja paddaengang yang sudah membudaya pada orang Makassar. Ternyata ketika ditelusuri kata paddaengang (daeng) berasal dari bahasa arab, yaitu dari kata doa’ yang bermakna harapan, keinginan. Sehingga begitu banyak orang Makassar, sebagaimana kita sering jumpai, memiliki nama seperti Daeng Tutu (semoga menjadi orang yang hati-hati), Daeng Rewa (semoga menjadi orang pemberani), Daeng Gassing (semoga menjadi orang kuat), Daeng Mattayyang (orang yang senantiasa menanti) dan seterusnya. Ini yang banyak tidak disadari oleh banyak orang, termasuk orang Makassar sendiri. Paddaengan selain sebagai ciri khas orang Makassar juga mengandung doa’ yang begitu besar pengaruhnya ketika di-marifati dalam pemberian nama-nama yang mengandung harapan.
Sekali lagi ini menarik buat saya sebagai orang yang bukan jebolan pesantren atau alumni bahasa arab, tapi menaruh perhatian besar pada bahasa. Begitu banyak kata-kata serapan asing yang turut memperkaya bahasa Indonesia, termasuk bahasa-bahasa daerah kita yang ratusan hingga ribuan jumlahnya. Tapi sejauh ini yang dapat saya lakukan hanyalah sebatas penelitian imajinatif. Dan sekali lagi genre penelitian ini tidak tercantum dalam buku-buku teks penelitian yang banyak diajarkan di universitas-universitas yang mentereng. Tabe
















































































Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ramadang

Namanya Ramadang. Begitu yang tertulis di akta kelahiran dan ijazahnya. Biasa dipanggil Andang saja, baik oleh orang tuanya ...