Ada yang baru pagi ini, sebaru dan seberbeda hari ini. Setidaknya ada
penemuan baru terkait ketersambungan budaya khususnya bahasa, rasa-rasanya. Iyya, berangkat dari sebuah
kata yang sering diucapkan, namun sedikit mengambang pemaknaannya selama ini.
Meski hanya sehelai kata tapi ia adalah pembentuk kalimat sekaligus pembangun
wacana yang menjadi suatu unsur penting
budaya dan agama sekaligus. Barulah sedikit
tersingkap kini. Eureka.
Cocoklogi ini terjadi ketika tengah sahdu mendengar pembahasan tentang tasawuf praktis atau irfan amali, bab tentang taubat, dari seorang Ustad yang dua puluh tahunan menuntut ilmu di Asia Barat sana. Beliau menjelaskan tentang 3 ciri pembentuk manusia, yaitu pertama, mari’fat (pengetahuan) versus kebodohan; kedua, keimanan versus kekufuran; ketiga, amal shaleh versus amal thalih (talek). Sangat panjang lebar rasanya kalau saya hendak menjelaskan paparan beliau, apalagi memang pembahasan tentang tema ini, bab taubat saja misalnya, idealnya sampai tiga hingga lima kali pertemuan. Takutnya juga akan mendistorsi penjelasan beliau. Lagi pula fokus saya bukan pada bahasan tema tersebut, tapi berangkat dari salah satu penjelasan beliau yang memicu dan membuka relung cakrawala baru.
Sebongkah kata yang bikin penasaran itu adalah kata talek (thalih) atau tale-talekang
dalam bahasa Makassar. Kenapa menjadi
menarik, minimal bagi saya sendiri, adalah ternyata kata tale atau thalih adalah
lawan dari kata shalih atau shaleh. Artinya, kedua kata ini
memiliki akar kata dari bahasa Arab.
Bedanya, kalo kata saleh sudah begitu
gamblang kalau itu memang dari bahasa Arab yang memilki arti : baik,
terpuji dan semacamnya. Tapi kata talek atau talekang yang memiliki arti buruk atau jelek, saya hampir yakin, kalau kata itu dianggap
sebagai kosa kata bahasa Makassar ‘asli’ belaka atau setidaknya tidak terpikir
kalau itu berasal dari bahasa arab juga. Ternyata tidak.
Begitulah orang-orang Indonesia, termasuk orang Makassar, Bugis,Mandar
dan lainnya sangat terkesima pada Islam sampai-sampai
sulit membedakannya dengan budaya arab termasuk bahasa Arab itu sendiri, hingga
begitu banyak ditemukan kosa kata Arab
dalam bahasa-bahasa lokal ini seiring diterimanya Islam sebagai agama, bahkan
pemberian nama pun sangat mudah dijumpai, termasuk nama saleh. Dan barangkali juga kata salewangang
yang berarti baik atau sehat juga berasal dari akar kata saleh. Sebagaimana sekarang digunakan sebagai jargon
dari salah satu kabupaten di SulSel—Maros Butta Salewangang.
Bagi penutur bahasa Makassar atau setidaknya mereka yang tinggal di kota
metro Makassar, kata tale atau talekang, tentu, sangat akrab didengar
bahkan kerab diucapkan dalam pergaulan sehari-hari. Walaupun makna dan konotasinya tidak sama
persis dengan bahasa aslinya. Perilaku atau perbuatan tale atau talekang dalam
kacamata orang Makassar memang merupakan sesuatu yang kurang terpuji di satu
sisi, tapi juga bukan merupakan suatu tindakan yang bertentangan secara
diametral dengan perbuatan saleh. Talekang lebih bermakna sebagai suatu keusilan atau tindakan berlebih-lebihan. Sebagaimana juga 'tallewa' atau 'tallewa-lewa' juga merupakan turunan dari kata 'thalih' yang bermakna 'berlebihan' atau 'berlebih-lebihan.'
“Dia memang talekang skali”, “kau kenapa tale sekali ko ka?”, “Jangan ko
talekang begitu”. Itu beberapa contoh ujaran kalimat yang sering kita dengar,
yang menandai sebuah perbuatan yang tidak sepantasnya dilakukan atau sebuah
tindakan yang berlebihan. Sebagai contoh perbuatan menggoda perempuan. Maka si
lelaki biasa disebut talekang. Atau
tindakan seseorang yang mengusili orang lain yang tidak sepantasnya dilakukan.
Ia pun bisa disebut talekang. Atau
perilaku pengendara di jalan raya yang
kebut-kebutan atau tidak memedulikan rambu lalu lintas, bisa juga disebut tallewa-lewa. Dan banyak contoh
lainnya.
Kata tale atau talekang ini cendrung bermakna lebih
halus, barangkali antara perbuatan baik dan buruk tapi lebih menjurus kepada
perilaku taleh atau buruk. Karena
orang Makassar sendiri mengartikan amal
saleh / baik sebagai amala’ baji
dan kebalikannya amal taleh (buruk)
sebagai amala kodi’. Jadi tidak serta
merta menerjemahkan amal taleh (buruk) menjadi amala talekang tapi amala kodi’. Ini yang mengherankan.
Ini berarti bahwa kata thalih
sudah diserab dan diadaptasi sedemikian rupa dalam bahasa Makassar karena telah
mengalami sedikit pergeseran makna. Bisa dipastikan juga kalau kata ini
hanyalah salah satu dari banyak kata lain yang menyusup atau dengan sengaja
atau tidak sengaja disusupkan kedalam bahasa sehari-hari kita. Ini semua tidak
lepas dari kerja-kerja cerdas para panrita
dan ulama terdahulu dalam membangun kedalaman
pemahaman Islam yang betul-betul dapat menyatu dengan budaya lokal. Akulturasi
inilah yang menjadikan Islam lebih terhayati manakala ada keterpaduan antara
Islam itu sendiri dengan adat kebiasaan setempat, termasuk bahasa.
Sebagai contoh lain, sebut saja paddaengang
yang sudah membudaya pada orang Makassar. Ternyata ketika ditelusuri kata paddaengang (daeng) berasal dari bahasa
arab, yaitu dari kata doa’ yang bermakna harapan, keinginan. Sehingga begitu
banyak orang Makassar, sebagaimana kita sering jumpai, memiliki nama seperti
Daeng Tutu (semoga menjadi orang yang hati-hati), Daeng Rewa (semoga menjadi
orang pemberani), Daeng Gassing (semoga menjadi orang kuat), Daeng Mattayyang
(orang yang senantiasa menanti) dan seterusnya. Ini yang banyak tidak disadari
oleh banyak orang, termasuk orang Makassar sendiri. Paddaengan selain sebagai
ciri khas orang Makassar juga mengandung doa’ yang begitu besar pengaruhnya
ketika di-marifati dalam pemberian
nama-nama yang mengandung harapan.
Sekali lagi ini menarik buat saya sebagai orang yang bukan jebolan pesantren
atau alumni bahasa arab, tapi menaruh perhatian besar pada bahasa. Begitu
banyak kata-kata serapan asing yang turut memperkaya bahasa Indonesia, termasuk
bahasa-bahasa daerah kita yang ratusan hingga ribuan jumlahnya. Tapi sejauh ini
yang dapat saya lakukan hanyalah sebatas penelitian
imajinatif. Dan sekali lagi genre
penelitian ini tidak tercantum dalam buku-buku teks penelitian yang banyak
diajarkan di universitas-universitas yang mentereng. Tabe
Tidak ada komentar:
Posting Komentar