Rabu, 16 Januari 2019

Malaikat Penolong




Image result for malaikat penolong

Begitu berharganya sebuah pertolongan yang diterima, apalagi ketika kita berada pada titik nadir ketidakberdayaan. Putus asa dan harapan berlomba menghampiri, mencoba mendominasi pada diri apakah kuat bertahan ataukah akan menyerah pada keadaan.
Semua orang pernah dan akan senantiasa menghadapi banyak tantangan hidup yang juga menuntut adanya solusi. Mulai dari persoalan hidup skala kecil hingga yang besar. Betapa sering kita memerlukan uluran tangan orang lain dalam menuntaskan permasalahan kita sehari-hari.

Sore itu aku mengalami sekaligus membuktikannya. Dan sangat aneh bin ajaib pula, karena pada kasus dan di lokasi yang sama. Pertolongan itu tiba di akhir-akhir rengkuhan nafasku yang terengah-engah. Dua kejadian yang berulang di sore yang sama, matahari muali menepi. Hanya beda tahun, medio 2018 dan awal 2019.  Barangkali juga di kebodohan dan kelalaianku yang sama. 

Ceritanya, sore itu saya, sekitar jam 17.00, untuk kepentingan bisnis dengan mengendarai motor kesayanganku—Yamaha Jupiter, hendak pergi berbelanja di sebuah lokasi pertokoan, dekat-dekat dengan salah satu masjid terbesar di Makassar—Masjid Raya. Perjalanan kesana,untuk lebih dekatnya, harus melewati jembatan flyover Makassar—salah satu infrastruktur kebanggaan warga Makassar. Soalnya, flyover itu, katanya, yang pertama di luar Jawa.

Dengan mengucap bismillah, saya paculah kuda besi saya, lengkap dengan berbagai pernak-pernik berkendara seperti kaus tangan, masker hingga kaus kaki. Tujuannya, untuk melindungi badan dari sergapan dinginnya angin sore atau bahkan malam ketika balik nantinya. Juga tentunya dari aneka macam polusi kota yang tak bersahabat.

Lagi asyik-asyiknya berkendara dengan konsentrasi penuh, tiba-tiba motorku serasa batuk-batuk, irama gasnya tidak stabil, serasa ingin berhenti tapi jalan lagi perlahan secara tidak stabil. Pasti habiski bensinnya ini, dugaankan cemas. Baru motorku persis berada di pendakian fly over itu, sekitar 30 derajat kemiringannya. Kondisi yang cukup terjal bagi saya yang tidak muda lagi. Tepat perkiraan saya, motor tiba-tiba berhenti. Premiumnya habis total. Motorku kehausan.

Dengan cepat saya turun dari motor, mengalihkan dorongan motor bertenaga  premium ke tenaga otot  badanku. Dorong dan dorong terus, harus cepat karena berhenti di tengah jalan bisa celaka jadinya, karena begitu banyak kendaraan melaju kencang—motor mobil—dengan segenap keterburu-buruannya. Saya bisa terlindas kalau tidak tangkas, pikirku. Apalagi tak sedikit kendaraan yang di belakang dan sampingku adalah pengendara ojol, yang masing-masing punya target yang harus dikejar dan diburu.  Sudah hampir magrib pula.

Dorong terus. Belum cukup sepuluh meter keringat sudah mulai mengucur di seluruh badan. Barangkali juga karena pengaruh jaket tebal yang saya kenakan. Hitung-hitung untuk olahraga, kataku, apalagi selama ini saya jarang memanaskan badan dengan berolahraga. Tentunya pikiran itu lebih banyak untuk menghibur diri saja atau setidaknya memberi semangat agar tetap kuat mendorong. Akhirnya berhenti, kecapaian.  Saya berusaha makin ke pinggir flyover. Menoleh kiri dan kanan terlihat pembangunan tiang-tiang pancang jembatan layang  yang sedang dikebut pembangunannya. 

Semangat mulai kendor. Dalam hati berbisik : “ini adalah ketedoloranmu sendiri. Kenapa tidak isi bensin memamg, kau kan sudah tahu, sedikit mami bensin motormu. Dan tetangga mu jual ji bensin eceran.” Mulailah saya ingat Allah dengan beristigfar sambil menelanjangi diri betapa bodoh manusia yang satu ini dihadapanmu, sambil mendorong kuda besiku sesenti demi sesenti, karena tenaga yang kian terkuras, hingga mencapai puncak fly over itu. Berhenti lagi, dengan rasa iri melihat para pengendara memacu masing-masing motornya beriringan dan ada pula yang salib menyalib.

Di tengah kondisi yang sangat kritis itu, tiba-tiba berhentilah seorang pengendara, bermotor matic, menyapa saya dengan ramah “kenapa motor ta pa’?”. “Habiski bensinnya, lupaku kuiisi”, jawabku dengan napas  putus-putus. Sambil terus mendekat, pengendara yang cukup gemuk itu berkata lagi “mari saya bantu dorongki, naik maki saja di motor ta, nanti saya dorong ki pake kaki.” Tanpa banyak tanya jawab lagi, saya naik ke motorku, dan orang baik itu menjulurkan kaki kanannya ke sadel motorku yang sebelah kiri. Motorku bergerak pelan, tanpa komando.

Dorongan motor orang itu terus berlanjut. Tidak ada diskusi diantara kami. Napasku masih tersengal-sengal. Saya lebih baik berkonsentrasi pada motorku yang lajunya harus disesuaikan dengan dorongan motor di belakang ku. Sekitar 100 meter motorku “dideret” dari belakang, barulah lelaki penolong itu berkata “di depan itu ada penjual bensin eceran”. “Ohh, iyya pa’ sedikit mami”. Akhirnya tibalah kami di depan penjual bensin eceran. “Mari pada di saya duluan” kata orang itu sambil tersenyum puas. “Terima kasih banyak, terimakasih” kataku tersenyum bahagia sambil menundukkan kepala dua kali.

Bensin sudah diisi. Sepuluh ribu per liter. Aman. Motor saya menyala kembali. Saya mengucap Alhamdulillah berkali-kali sambil membayangkan wajah lelaki penolong itu yang raut mukanya juga tampak senang. 

Kedua penolong itu sama-sama lelaki bermotor matic.  Entah apa merek motornya. Muncul ketika betul-betul dibutuhkan. Terima kasih pada kalian. Sekali-sekali saya kirimkan shawalat pada kalian, biar pun tanpa nama. Namun jelas kuhadiahkan pada malaikat penolongku itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ramadang

Namanya Ramadang. Begitu yang tertulis di akta kelahiran dan ijazahnya. Biasa dipanggil Andang saja, baik oleh orang tuanya ...