Begitu berharganya sebuah pertolongan
yang diterima, apalagi ketika kita berada pada titik nadir ketidakberdayaan.
Putus asa dan harapan berlomba menghampiri, mencoba mendominasi pada diri
apakah kuat bertahan ataukah akan menyerah pada keadaan.
Semua orang pernah dan akan senantiasa
menghadapi banyak tantangan hidup yang juga menuntut adanya solusi. Mulai dari
persoalan hidup skala kecil hingga yang besar. Betapa sering kita memerlukan
uluran tangan orang lain dalam menuntaskan permasalahan kita sehari-hari.
Sore itu aku mengalami sekaligus
membuktikannya. Dan sangat aneh bin ajaib pula, karena pada kasus dan di lokasi
yang sama. Pertolongan itu tiba di akhir-akhir rengkuhan nafasku yang
terengah-engah. Dua kejadian yang berulang di sore yang sama, matahari muali
menepi. Hanya beda tahun, medio 2018 dan awal 2019. Barangkali juga di kebodohan dan kelalaianku
yang sama.
Ceritanya, sore itu saya, sekitar jam
17.00, untuk kepentingan bisnis dengan mengendarai motor kesayanganku—Yamaha Jupiter,
hendak pergi berbelanja di sebuah lokasi pertokoan, dekat-dekat dengan salah
satu masjid terbesar di Makassar—Masjid Raya. Perjalanan kesana,untuk lebih
dekatnya, harus melewati jembatan flyover Makassar—salah satu infrastruktur
kebanggaan warga Makassar. Soalnya, flyover itu, katanya, yang pertama di luar
Jawa.
Dengan mengucap bismillah, saya
paculah kuda besi saya, lengkap dengan berbagai pernak-pernik berkendara
seperti kaus tangan, masker hingga kaus kaki. Tujuannya, untuk melindungi badan
dari sergapan dinginnya angin sore atau bahkan malam ketika balik nantinya. Juga
tentunya dari aneka macam polusi kota yang tak bersahabat.
Lagi asyik-asyiknya berkendara dengan
konsentrasi penuh, tiba-tiba motorku serasa batuk-batuk, irama gasnya tidak stabil,
serasa ingin berhenti tapi jalan lagi perlahan secara tidak stabil. Pasti habiski
bensinnya ini, dugaankan cemas. Baru motorku persis berada di pendakian fly
over itu, sekitar 30 derajat kemiringannya. Kondisi yang cukup terjal bagi saya
yang tidak muda lagi. Tepat perkiraan saya, motor tiba-tiba berhenti. Premiumnya
habis total. Motorku kehausan.
Dengan cepat saya turun dari motor,
mengalihkan dorongan motor bertenaga premium ke tenaga otot badanku. Dorong dan dorong terus, harus cepat
karena berhenti di tengah jalan bisa celaka jadinya, karena begitu banyak
kendaraan melaju kencang—motor mobil—dengan segenap keterburu-buruannya. Saya bisa
terlindas kalau tidak tangkas, pikirku. Apalagi tak sedikit kendaraan yang
di belakang dan sampingku adalah pengendara ojol,
yang masing-masing punya target yang harus dikejar dan diburu. Sudah hampir magrib pula.
Dorong terus. Belum cukup sepuluh
meter keringat sudah mulai mengucur di seluruh badan. Barangkali juga karena
pengaruh jaket tebal yang saya kenakan. Hitung-hitung untuk olahraga, kataku,
apalagi selama ini saya jarang memanaskan badan dengan berolahraga. Tentunya pikiran
itu lebih banyak untuk menghibur diri saja atau setidaknya memberi semangat
agar tetap kuat mendorong. Akhirnya berhenti, kecapaian. Saya berusaha makin ke pinggir flyover. Menoleh
kiri dan kanan terlihat pembangunan tiang-tiang pancang jembatan layang yang sedang dikebut pembangunannya.
Semangat mulai kendor. Dalam hati
berbisik : “ini adalah ketedoloranmu sendiri. Kenapa tidak isi bensin memamg,
kau kan sudah tahu, sedikit mami bensin motormu. Dan tetangga mu jual ji bensin
eceran.” Mulailah saya ingat Allah dengan beristigfar sambil menelanjangi diri
betapa bodoh manusia yang satu ini dihadapanmu, sambil mendorong kuda besiku
sesenti demi sesenti, karena tenaga yang kian terkuras, hingga mencapai puncak
fly over itu. Berhenti lagi, dengan rasa iri melihat para pengendara memacu
masing-masing motornya beriringan dan ada pula yang salib menyalib.
Di tengah kondisi yang sangat kritis
itu, tiba-tiba berhentilah seorang pengendara, bermotor matic, menyapa saya
dengan ramah “kenapa motor ta pa’?”. “Habiski bensinnya, lupaku kuiisi”,
jawabku dengan napas putus-putus. Sambil
terus mendekat, pengendara yang cukup gemuk itu berkata lagi “mari saya bantu
dorongki, naik maki saja di motor ta, nanti saya dorong ki pake kaki.” Tanpa
banyak tanya jawab lagi, saya naik ke motorku, dan orang baik itu menjulurkan
kaki kanannya ke sadel motorku yang sebelah kiri. Motorku bergerak pelan, tanpa
komando.
Dorongan motor orang itu terus berlanjut.
Tidak ada diskusi diantara kami. Napasku masih tersengal-sengal. Saya lebih baik
berkonsentrasi pada motorku yang lajunya harus disesuaikan dengan dorongan
motor di belakang ku. Sekitar 100 meter motorku “dideret” dari belakang,
barulah lelaki penolong itu berkata “di depan itu ada penjual bensin eceran”. “Ohh,
iyya pa’ sedikit mami”. Akhirnya tibalah kami di depan penjual bensin eceran. “Mari
pada di saya duluan” kata orang itu sambil tersenyum puas. “Terima kasih banyak,
terimakasih” kataku tersenyum bahagia sambil menundukkan kepala dua kali.
Bensin sudah diisi. Sepuluh ribu per
liter. Aman. Motor saya menyala kembali. Saya mengucap Alhamdulillah berkali-kali
sambil membayangkan wajah lelaki penolong itu yang raut mukanya juga tampak senang.
Kedua penolong itu sama-sama lelaki
bermotor matic. Entah apa merek
motornya. Muncul ketika betul-betul dibutuhkan. Terima kasih pada kalian. Sekali-sekali
saya kirimkan shawalat pada kalian, biar pun tanpa nama. Namun jelas
kuhadiahkan pada malaikat penolongku itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar