Jumat, 25 Januari 2019

Mengenal Malino

Longsor, Angin Kencang, kebakaran hutan & Pohon Tumbang
 (Pengalaman 18 Tahun mukim Di Malino)

Hasil gambar untuk bencana alam malino
Saya lahir di pertengahan tahun 1970-an. Masih orde baru berkuasa, jaya-jayanya eyang Soeharto. Tidak jauh dari lokasi foto diatas, sekitar 500 meter ke arah pusat kota Malino. Orang malino sendiri menyebut "Malino 1927" sebagai tanda-tanda Malino. Entah siapa yang membangun Tanda tersebut. Besar kemungkinan atas inisiatif orang Belanda sendiri, sebagaimana jalan aspal dari Makassar ke Malino adalah hasil kerja Kolonial Belanda dulu.

Dari dulu hingga sekarang, saya terkadang senyum-senyum sendiri, betapa tidak karena terlalu banyak yang salah mengerti tentang Malino, terutama dari segi luas geografisnya. Mereka mengganggap kalau daerah setelah Bili-Bili ke atas, misalnya, itu sudah dikiranya Malino. atau daerah produsen sayur dan buah termasuk daerah perkebunan teh juga adalah Malino.  Sebenarnya, Malino itu hanya sepetak kelurahan kecil saja. Tidak lebih, sebagaimana banyak kelurahan lainnya, kecil saja. tapi begitulah, Malino jauh lebih dikenal daripada kecamatannya sendiri, kecamatan Tinggi Moncong. iya, Malino hanyalah ibukota kecamatan belaka. Boleh  jadi, memang,  karena di benak khalayak ramai termasuk dalam buku-buku sejarah, yang tercatat adalah Malino, apatahlagi  ketika pernah diadakan konferensi Malino yang terkenal itu bahkan belakangan pernah diselenggarakan  juga konferensi damai Malino.

Hingga usia enam atau tujuh tahun, sudah pasti, saya masih belum memiliki kesadaran yang berarti tentang realitas yang ada atau apa yang sebenarnya terjadi, maklum masih terbilang bayi atau anak kecil. Tak banyak yang dapat diceritakan pada masa-masa itu. Ibarat masih seperti kertas putih, kata filosof Inggris,  John Lock.
Kesadaran terjauh yang masih saya ingat adalah saat masih umur enam tahunan, entahlah. Ketika bersama ibu tercinta, dan kakak laki-laki saya, yang nomor dua, baru saja pulang dari hutan pinus Malino, yang tidak jauh dari rumah. Kami buru-buru pulang karena hujan sangat deras saat itu hingga kami basah kuyub. Saban hari memang kami sekali-sekali ke hutan mencari jamur yang biasanya tumbuh subur di sela-sela akar pinus, kami biasa menyebutnya pippisi. Sangat enak, apalagi kalau ditumis atau dimasak dengan  daun singkong. Assipanna. Karena sangat basah, saat itu—tahun 1980-an awal—saya dihanduki dan disarungi oleh amma tercinta, begitu saya biasa memanggi ibu saya. Barangkali amma  saya khawatir kalau-kalau saya sakit. Lantas saya dipeluk dan dibuainya hingga tertidur di pangkuannya. Itulah kenangan terlama saya sekaligus tak terlupakan.
Umur enam tujuh tahun, saya masuk SD. Tanpa ikut Taman Kanak-Kanak. Karena setahu saya, hanya satu TK yang ada saat itu di Malino, di kompleks Pelatihan Tentara, kurang lebih 3 kilometer dari rumah.  Mulai umur inilah saya bisa merekam beberapa peristiwa berkesan, termasuk beberapa bencana yang pernah terjadi.
Seperti daerah-daerah ketinggian lainnya, Malino lebih banyak didominasi oleh beberapa bencana tertentu. Seperti, misalnya ketika musim hujan, kerab terjadi longsong, angin kencang dan pohon tumbang. Dan ketika kemarau tiba, apalagi kemarau panjang, beberapa kali terjadi kebakaran hutan.
Saya masih ingat betul, salah satu yang sangat kami khawatirkan adalah ketika terjadi angin kencang, apalagi bila disertai hujan keras. Maklumlah, sebagaimana banyak banyak rumah lainnya, rumah saya pun berada di dekat pohon-pohon pinus yang sangat jangkung, yang barangkali mencapai 50-an meter tingginya, dengan diameter yang besar pula, orang dewasa sekali pun tidak sanggup melingkarkan kedua tangannya sekaligus.  Biasanya ketika ada kejadian seperti itu, ibu saya segera berdiri di pintu rumah dengan penuh khusuk sambil berdoa dengan mulut komat-kamit. entah doa apa yang ia baca.Tapi setidaknya sedikit itu memberi sugesti ketenangan kepada kami seisi rumah. Alhamdulillah rumah kami aman-aman saja.

Bagaimana tidak khawatir, sudah berkali-kali ada kejadian pohon tumbang. ada yang tumbang bersama akar-akarnya. Kadang juga hanya patah sebagian. Pernah juga ada pohon pinus raksasa tumbang setengah karena disambar petir.  Semuanya berbahaya. sekali dua kali pernah kejadian menimpa sebuah rumah. Rumahnya hancur sebagian. Untunglah batang pohon dan rantingnya tidak menimpa kamar tidur rumah itu yang penghuninya lagi terlelap tidur di malam hari.

Tapi, ternyata, ada juga berkahnya kalau terdengar ada pohon tumbang seperti itu. biasanya kalau hujan sudah reda atau anginnya telah berlalu, kami yang tinggal disekitarnya berduyun-duyun mengambil ranting dan batangnya. wajar saja, tahun 1980-an, rata-rata rumah tangga masih mengandalkan kayu sebagai bahan bakar masak-memasak. kalau batangnya yang besar itu, bisa diolah menjadi papan atau balok rumah. Seingat saya, saat itu belum ada larangan memanfaatkan kayu yang tumbang seperti itu. Bahkan ayah saya, terkadang menebang pohon besar--selain pohon pinus--untuk diolah menjadi bahan-bahan untuk membangun rumah, seperti tiang, papan dan balok. tidak seperti sekarang, dimana sudah banyak orang yang ditangkap karena menebang pohon, sekalipun pohon itu berada di kebunnya sendiri apalagi di lokasi hutan lindung.


Bersambung……

Kamis, 17 Januari 2019

Amal Talekang versus Amal Saleh



Hasil gambar untuk gulungan lontara



Ada yang baru pagi ini, sebaru dan seberbeda hari ini. Setidaknya ada penemuan baru terkait ketersambungan budaya khususnya bahasa, rasa-rasanya. Iyya, berangkat dari sebuah kata yang sering diucapkan, namun sedikit mengambang pemaknaannya selama ini. Meski hanya sehelai kata tapi ia adalah pembentuk kalimat sekaligus pembangun wacana  yang menjadi suatu unsur penting budaya dan agama sekaligus.  Barulah sedikit tersingkap kini.  Eureka.

Cocoklogi ini terjadi ketika tengah sahdu mendengar pembahasan tentang tasawuf praktis atau irfan amali, bab tentang taubat, dari seorang Ustad yang dua puluh tahunan menuntut ilmu di Asia Barat sana. Beliau menjelaskan tentang 3 ciri pembentuk manusia, yaitu pertama, mari’fat (pengetahuan) versus kebodohan; kedua, keimanan versus kekufuran; ketiga, amal shaleh versus amal thalih (talek).  Sangat panjang lebar rasanya kalau saya hendak menjelaskan paparan beliau, apalagi memang pembahasan tentang tema ini, bab taubat saja misalnya, idealnya sampai tiga hingga lima kali pertemuan. Takutnya juga akan mendistorsi penjelasan beliau. Lagi pula fokus saya bukan pada bahasan tema tersebut, tapi berangkat dari salah satu penjelasan beliau yang memicu dan membuka relung cakrawala baru.
Sebongkah kata yang bikin penasaran itu adalah kata talek (thalih) atau tale-talekang  dalam bahasa Makassar. Kenapa menjadi menarik, minimal bagi saya sendiri, adalah ternyata kata tale atau thalih adalah lawan dari kata shalih atau shaleh. Artinya, kedua kata ini memiliki akar kata  dari bahasa Arab. Bedanya, kalo kata saleh sudah begitu gamblang kalau itu memang dari bahasa Arab yang memilki arti : baik, terpuji  dan semacamnya. Tapi kata talek atau talekang yang memiliki arti buruk atau jelek,  saya hampir yakin, kalau kata itu dianggap sebagai kosa kata bahasa Makassar ‘asli’ belaka atau setidaknya tidak terpikir kalau itu berasal dari bahasa arab juga. Ternyata tidak.
Begitulah orang-orang Indonesia, termasuk orang Makassar, Bugis,Mandar dan lainnya sangat terkesima pada Islam  sampai-sampai sulit membedakannya dengan budaya arab termasuk bahasa Arab itu sendiri, hingga begitu banyak ditemukan  kosa kata Arab dalam bahasa-bahasa lokal ini seiring diterimanya Islam sebagai agama, bahkan pemberian nama pun sangat mudah dijumpai, termasuk nama saleh. Dan barangkali juga kata salewangang yang berarti baik atau sehat juga berasal dari akar kata saleh. Sebagaimana sekarang digunakan sebagai jargon dari salah satu kabupaten di SulSel—Maros Butta Salewangang.
Bagi penutur bahasa Makassar atau setidaknya mereka yang tinggal di kota metro Makassar, kata tale atau talekang, tentu, sangat akrab didengar bahkan kerab diucapkan dalam pergaulan sehari-hari.  Walaupun makna dan konotasinya tidak sama persis dengan bahasa aslinya. Perilaku atau perbuatan tale atau talekang dalam kacamata orang Makassar memang merupakan sesuatu yang kurang terpuji di satu sisi, tapi juga bukan merupakan suatu tindakan yang bertentangan secara diametral dengan perbuatan saleh. Talekang lebih bermakna sebagai suatu keusilan  atau tindakan berlebih-lebihan. Sebagaimana juga 'tallewa' atau 'tallewa-lewa'  juga merupakan turunan dari kata 'thalih' yang bermakna 'berlebihan' atau 'berlebih-lebihan.'
“Dia memang talekang skali”, “kau kenapa tale sekali ko ka?”, “Jangan ko talekang begitu”. Itu beberapa contoh ujaran kalimat yang sering kita dengar, yang menandai sebuah perbuatan yang tidak sepantasnya dilakukan atau sebuah tindakan yang berlebihan. Sebagai contoh perbuatan menggoda perempuan. Maka si lelaki biasa disebut talekang. Atau tindakan seseorang yang mengusili orang lain yang tidak sepantasnya dilakukan. Ia pun bisa disebut talekang. Atau perilaku pengendara di jalan  raya yang kebut-kebutan atau tidak memedulikan rambu lalu lintas, bisa juga disebut tallewa-lewa. Dan banyak contoh lainnya.
Kata tale atau talekang ini cendrung bermakna lebih halus, barangkali antara perbuatan baik dan buruk tapi lebih menjurus kepada perilaku taleh atau buruk. Karena orang Makassar sendiri mengartikan amal saleh / baik sebagai amala’ baji dan kebalikannya amal taleh (buruk) sebagai amala kodi’. Jadi tidak serta merta menerjemahkan amal taleh (buruk) menjadi amala talekang tapi amala kodi’. Ini yang mengherankan.  
Ini berarti bahwa kata thalih sudah diserab dan diadaptasi sedemikian rupa dalam bahasa Makassar karena telah mengalami sedikit pergeseran makna. Bisa dipastikan juga kalau kata ini hanyalah salah satu dari banyak kata lain yang menyusup atau dengan sengaja atau tidak sengaja disusupkan kedalam bahasa sehari-hari kita. Ini semua tidak lepas dari kerja-kerja cerdas para panrita dan ulama  terdahulu dalam membangun kedalaman pemahaman Islam yang betul-betul dapat menyatu dengan budaya lokal. Akulturasi inilah yang menjadikan Islam lebih terhayati manakala ada keterpaduan antara Islam itu sendiri dengan adat kebiasaan setempat, termasuk bahasa.
Sebagai contoh lain, sebut saja paddaengang yang sudah membudaya pada orang Makassar. Ternyata ketika ditelusuri kata paddaengang (daeng) berasal dari bahasa arab, yaitu dari kata doa’ yang bermakna harapan, keinginan. Sehingga begitu banyak orang Makassar, sebagaimana kita sering jumpai, memiliki nama seperti Daeng Tutu (semoga menjadi orang yang hati-hati), Daeng Rewa (semoga menjadi orang pemberani), Daeng Gassing (semoga menjadi orang kuat), Daeng Mattayyang (orang yang senantiasa menanti) dan seterusnya. Ini yang banyak tidak disadari oleh banyak orang, termasuk orang Makassar sendiri. Paddaengan selain sebagai ciri khas orang Makassar juga mengandung doa’ yang begitu besar pengaruhnya ketika di-marifati dalam pemberian nama-nama yang mengandung harapan.
Sekali lagi ini menarik buat saya sebagai orang yang bukan jebolan pesantren atau alumni bahasa arab, tapi menaruh perhatian besar pada bahasa. Begitu banyak kata-kata serapan asing yang turut memperkaya bahasa Indonesia, termasuk bahasa-bahasa daerah kita yang ratusan hingga ribuan jumlahnya. Tapi sejauh ini yang dapat saya lakukan hanyalah sebatas penelitian imajinatif. Dan sekali lagi genre penelitian ini tidak tercantum dalam buku-buku teks penelitian yang banyak diajarkan di universitas-universitas yang mentereng. Tabe
















































































Rabu, 16 Januari 2019

Malaikat Penolong




Image result for malaikat penolong

Begitu berharganya sebuah pertolongan yang diterima, apalagi ketika kita berada pada titik nadir ketidakberdayaan. Putus asa dan harapan berlomba menghampiri, mencoba mendominasi pada diri apakah kuat bertahan ataukah akan menyerah pada keadaan.
Semua orang pernah dan akan senantiasa menghadapi banyak tantangan hidup yang juga menuntut adanya solusi. Mulai dari persoalan hidup skala kecil hingga yang besar. Betapa sering kita memerlukan uluran tangan orang lain dalam menuntaskan permasalahan kita sehari-hari.

Sore itu aku mengalami sekaligus membuktikannya. Dan sangat aneh bin ajaib pula, karena pada kasus dan di lokasi yang sama. Pertolongan itu tiba di akhir-akhir rengkuhan nafasku yang terengah-engah. Dua kejadian yang berulang di sore yang sama, matahari muali menepi. Hanya beda tahun, medio 2018 dan awal 2019.  Barangkali juga di kebodohan dan kelalaianku yang sama. 

Ceritanya, sore itu saya, sekitar jam 17.00, untuk kepentingan bisnis dengan mengendarai motor kesayanganku—Yamaha Jupiter, hendak pergi berbelanja di sebuah lokasi pertokoan, dekat-dekat dengan salah satu masjid terbesar di Makassar—Masjid Raya. Perjalanan kesana,untuk lebih dekatnya, harus melewati jembatan flyover Makassar—salah satu infrastruktur kebanggaan warga Makassar. Soalnya, flyover itu, katanya, yang pertama di luar Jawa.

Dengan mengucap bismillah, saya paculah kuda besi saya, lengkap dengan berbagai pernak-pernik berkendara seperti kaus tangan, masker hingga kaus kaki. Tujuannya, untuk melindungi badan dari sergapan dinginnya angin sore atau bahkan malam ketika balik nantinya. Juga tentunya dari aneka macam polusi kota yang tak bersahabat.

Lagi asyik-asyiknya berkendara dengan konsentrasi penuh, tiba-tiba motorku serasa batuk-batuk, irama gasnya tidak stabil, serasa ingin berhenti tapi jalan lagi perlahan secara tidak stabil. Pasti habiski bensinnya ini, dugaankan cemas. Baru motorku persis berada di pendakian fly over itu, sekitar 30 derajat kemiringannya. Kondisi yang cukup terjal bagi saya yang tidak muda lagi. Tepat perkiraan saya, motor tiba-tiba berhenti. Premiumnya habis total. Motorku kehausan.

Dengan cepat saya turun dari motor, mengalihkan dorongan motor bertenaga  premium ke tenaga otot  badanku. Dorong dan dorong terus, harus cepat karena berhenti di tengah jalan bisa celaka jadinya, karena begitu banyak kendaraan melaju kencang—motor mobil—dengan segenap keterburu-buruannya. Saya bisa terlindas kalau tidak tangkas, pikirku. Apalagi tak sedikit kendaraan yang di belakang dan sampingku adalah pengendara ojol, yang masing-masing punya target yang harus dikejar dan diburu.  Sudah hampir magrib pula.

Dorong terus. Belum cukup sepuluh meter keringat sudah mulai mengucur di seluruh badan. Barangkali juga karena pengaruh jaket tebal yang saya kenakan. Hitung-hitung untuk olahraga, kataku, apalagi selama ini saya jarang memanaskan badan dengan berolahraga. Tentunya pikiran itu lebih banyak untuk menghibur diri saja atau setidaknya memberi semangat agar tetap kuat mendorong. Akhirnya berhenti, kecapaian.  Saya berusaha makin ke pinggir flyover. Menoleh kiri dan kanan terlihat pembangunan tiang-tiang pancang jembatan layang  yang sedang dikebut pembangunannya. 

Semangat mulai kendor. Dalam hati berbisik : “ini adalah ketedoloranmu sendiri. Kenapa tidak isi bensin memamg, kau kan sudah tahu, sedikit mami bensin motormu. Dan tetangga mu jual ji bensin eceran.” Mulailah saya ingat Allah dengan beristigfar sambil menelanjangi diri betapa bodoh manusia yang satu ini dihadapanmu, sambil mendorong kuda besiku sesenti demi sesenti, karena tenaga yang kian terkuras, hingga mencapai puncak fly over itu. Berhenti lagi, dengan rasa iri melihat para pengendara memacu masing-masing motornya beriringan dan ada pula yang salib menyalib.

Di tengah kondisi yang sangat kritis itu, tiba-tiba berhentilah seorang pengendara, bermotor matic, menyapa saya dengan ramah “kenapa motor ta pa’?”. “Habiski bensinnya, lupaku kuiisi”, jawabku dengan napas  putus-putus. Sambil terus mendekat, pengendara yang cukup gemuk itu berkata lagi “mari saya bantu dorongki, naik maki saja di motor ta, nanti saya dorong ki pake kaki.” Tanpa banyak tanya jawab lagi, saya naik ke motorku, dan orang baik itu menjulurkan kaki kanannya ke sadel motorku yang sebelah kiri. Motorku bergerak pelan, tanpa komando.

Dorongan motor orang itu terus berlanjut. Tidak ada diskusi diantara kami. Napasku masih tersengal-sengal. Saya lebih baik berkonsentrasi pada motorku yang lajunya harus disesuaikan dengan dorongan motor di belakang ku. Sekitar 100 meter motorku “dideret” dari belakang, barulah lelaki penolong itu berkata “di depan itu ada penjual bensin eceran”. “Ohh, iyya pa’ sedikit mami”. Akhirnya tibalah kami di depan penjual bensin eceran. “Mari pada di saya duluan” kata orang itu sambil tersenyum puas. “Terima kasih banyak, terimakasih” kataku tersenyum bahagia sambil menundukkan kepala dua kali.

Bensin sudah diisi. Sepuluh ribu per liter. Aman. Motor saya menyala kembali. Saya mengucap Alhamdulillah berkali-kali sambil membayangkan wajah lelaki penolong itu yang raut mukanya juga tampak senang. 

Kedua penolong itu sama-sama lelaki bermotor matic.  Entah apa merek motornya. Muncul ketika betul-betul dibutuhkan. Terima kasih pada kalian. Sekali-sekali saya kirimkan shawalat pada kalian, biar pun tanpa nama. Namun jelas kuhadiahkan pada malaikat penolongku itu.

Ramadang

Namanya Ramadang. Begitu yang tertulis di akta kelahiran dan ijazahnya. Biasa dipanggil Andang saja, baik oleh orang tuanya ...