Rabu, 23 Oktober 2019

Untuk Para Sahabat Spensa 91 Malino



Hasil gambar untuk reuni smp kartun


Orang selalu bicara tentang kebetulan. Tapi saya tidak percaya itu. Saya meyakini bahwa apa pun yang sudah terjadi adalah suatu rangkaian terencana yang melibatkan Yang Maha Perencana. Begitu pula ketika kita pernah bersama-sama mengarungi etape waktu  yang disebut Angkatan 1988.

Banyak hal yang perlu dikenang sekaligus dirayakan bersama, dengan pendekatan dan persepsi kita yang sangat relatif, simpatik, empatik bahkan ada rasa-rasa bapernya.
Pertama-tama saya sangat mengapresiasi sesiapa saja yang memulakan, membangun, merawat dan membesarkan komunitas ini, iyya Angkatan 1988 atau Spensa 1991. Tentu tidaklah semudah membalikkan telapak kaki. Saya hanya dapat membayangkan betapa kalian--sahabat-sahabat saya--berjibaku dengan segenap pengorbanan waktu, perasaan dan materialnya masing-masing. Itulah juga yang membuat  saya cendrung malu karena selama itu saya tidak ikut berkontribusi di dalamnya. Tapi percayalah, dan tidak usah kalian belah dadaku, bahwa dari jauh saya tetap mendoakan komunitas ini dan begitu pula keselamatan sahabat-sahabat semua, meskipun  tidak bisa ditakar besaran dan nilainya oleh kita semua makhluk yang sangat nisbi ini. 

Di sela-sela kenangan indah di penghujung tahun 80-an hingga awal tahun 90-an itu, tentu ada saja kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat yang pastinya sudah bisa dicatat sebagai dosa, karena di etape itulah  awal baliq kita dimulai, yaitu ketika terjadi pertama kali mimpi basah bagi kaum perjaka dan haid pertama bagi kamu perawan.

Itulah dorongan terbesar saya   membuat coretan ini, yaitu ingin memohon maaf kepada semua sahabat atas segala khilaf dan dosa pada masa itu. Dan tanpa diminta pun, saya akan memaafkan segenap sahabat.  Apakah dulu saya pernah pinjam pulpen, buku, uang  atau apa saja lantas rusak atau tidak balik lagi, apakah pernah kita berselisih, saling menebar aib atau bergossip ria bahkan barangkali saling mengumpat dan mengatai  dengan ujaran tak pantas. Mari saling memaafkan.

Dari rangkaian re-union ini pula lah, kita belajar bahwa perjalanan hidup bukanlah sesuatu yang linear. Bagaimana  dulu para sahabat, sebagai contoh, yang menonjol secara akademis dan yang biasa-biasa saja, pada akhirnya tidak menjadi penentu keberhasilannya di kemudian hari, kalau lah misalnya yang menjadi paramaternya adalah keberhasilan material dan karir. Dan syukurnya, dengan keterbatasan pengetahuan saya, komunitas ini tidak tersekat dengan batas-batas picik berupa kesuksesan material, karir dan semacamnya. Kita disatukan oleh sesuatu yang sangat primordial, kesamaan sejarah di masa silam yang telah ikut membentuk kita semua hingga seperti saat ini. 

Ingat spensa 91, maka yang paling mula-mula muncul adalah ingat sama Pak Ms, sang direktur Properti & Tanah Kapling,  dan ibu As. Bukan karena mereka lah yang pernah saya temui langsung di Makassar. Tapi, menurut saya, mereka adalah symbol persahabatan dan cinta abadi Spensa 91. Betapa tidak, mereka berdua telah menabur cinta kepada selainnya sekian tahun lamanya hingga mereka melanglang buana ke tanah Jawa dan Nusa Tenggara, namun pada ending-nya mereka ketemu dan dipertemukan bersama. Patut dicurigai bahwa cinta mereka sudah bersemi sejak tempo doeloe itu. Malu-malu kucing, senter-senter bella, hanya mereka berdua yang tahu. Mutar-mutar kemana-mana akhirnya bersama kembali. Saya tidak menafikan sahabat-sahabat lain, termasuk diri saya sendiri. Mungkin ada rasa suka pada seseorang, sebut saja sebagai cinta monyet, tapi terlanjur disambar orang lain. Biarlah itu semua menjadi rahasia masing-masing. Itulah perjalanan hidup yang penuh rasa nano-nano. Atau adakah kisah yang lebih syahdu dari kisah mereka berdua di angkatan 1988?

Goresan ini hanyalah semacam coretan dindingnya Iwan Fals, atau setara dengan pelajaran mengarang dari guru bahasa Indonesia kita dulu.  Tugas bercerita yang kadang sangat sulit dikerjakan. Bahkan menjadi pelajaran yang sangat dibenci oleh kita semua. Kalau kita disuruh mengarang waktu itu, paling lazim kita akan memulainya dengan  : Pada suatu hari……………. Dan tulisan ini adalah lanjutan pelajaran yang dulu saya benci itu namun perlahan mulai saya  sukai.

Dari Malino ke Makassar, Dari malino kita tersebar.  Dari Malino kita ke Mana-mana, Ke Malino kita kembali bersama.

Salam hormat dan rindu selalu


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ramadang

Namanya Ramadang. Begitu yang tertulis di akta kelahiran dan ijazahnya. Biasa dipanggil Andang saja, baik oleh orang tuanya ...