Orang
selalu bicara tentang kebetulan. Tapi saya tidak percaya itu. Saya meyakini
bahwa apa pun yang sudah terjadi adalah suatu rangkaian terencana yang
melibatkan Yang Maha Perencana. Begitu pula ketika kita pernah bersama-sama
mengarungi etape waktu yang disebut
Angkatan 1988.
Banyak
hal yang perlu dikenang sekaligus dirayakan bersama, dengan pendekatan dan
persepsi kita yang sangat relatif, simpatik, empatik bahkan ada rasa-rasa bapernya.
Pertama-tama
saya sangat mengapresiasi sesiapa saja yang memulakan, membangun, merawat dan
membesarkan komunitas ini, iyya Angkatan 1988 atau Spensa 1991. Tentu tidaklah
semudah membalikkan telapak kaki. Saya hanya dapat membayangkan betapa
kalian--sahabat-sahabat saya--berjibaku dengan segenap pengorbanan waktu,
perasaan dan materialnya masing-masing. Itulah juga yang membuat saya cendrung malu karena selama itu saya
tidak ikut berkontribusi di dalamnya. Tapi percayalah, dan tidak usah kalian
belah dadaku, bahwa dari jauh saya tetap mendoakan komunitas ini dan begitu
pula keselamatan sahabat-sahabat semua, meskipun tidak bisa ditakar besaran dan nilainya oleh
kita semua makhluk yang sangat nisbi ini.
Di
sela-sela kenangan indah di penghujung tahun 80-an hingga awal tahun 90-an itu,
tentu ada saja kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat yang pastinya sudah
bisa dicatat sebagai dosa, karena di etape itulah awal baliq kita dimulai, yaitu ketika terjadi
pertama kali mimpi basah bagi kaum perjaka dan haid pertama bagi kamu perawan.
Itulah
dorongan terbesar saya membuat
coretan ini, yaitu ingin memohon maaf kepada semua sahabat atas segala khilaf
dan dosa pada masa itu. Dan tanpa diminta pun, saya akan memaafkan segenap
sahabat. Apakah dulu saya pernah pinjam
pulpen, buku, uang atau apa saja lantas
rusak atau tidak balik lagi, apakah pernah kita berselisih, saling menebar aib
atau bergossip ria bahkan barangkali saling mengumpat dan mengatai dengan ujaran tak pantas. Mari saling
memaafkan.
.
.
Dari
rangkaian re-union ini pula lah, kita
belajar bahwa perjalanan hidup bukanlah sesuatu yang linear. Bagaimana dulu para sahabat, sebagai contoh, yang
menonjol secara akademis dan yang biasa-biasa saja, pada akhirnya tidak menjadi
penentu keberhasilannya di kemudian hari, kalau lah misalnya yang menjadi
paramaternya adalah keberhasilan material dan karir. Dan syukurnya, dengan
keterbatasan pengetahuan saya, komunitas ini tidak tersekat dengan batas-batas
picik berupa kesuksesan material, karir dan semacamnya. Kita disatukan oleh
sesuatu yang sangat primordial, kesamaan sejarah di masa silam yang telah ikut
membentuk kita semua hingga seperti saat ini.
Ingat
spensa 91, maka yang paling mula-mula muncul adalah ingat sama Pak Ms, sang direktur Properti & Tanah Kapling, dan
ibu As. Bukan karena mereka lah yang pernah saya temui langsung di
Makassar. Tapi, menurut saya, mereka adalah symbol persahabatan dan cinta abadi
Spensa 91. Betapa tidak, mereka berdua telah menabur cinta kepada selainnya
sekian tahun lamanya hingga mereka melanglang buana ke tanah Jawa dan Nusa Tenggara, namun pada ending-nya mereka ketemu dan dipertemukan bersama.
Patut dicurigai bahwa cinta mereka sudah bersemi sejak tempo doeloe itu.
Malu-malu kucing, senter-senter bella, hanya mereka berdua yang tahu.
Mutar-mutar kemana-mana akhirnya bersama kembali. Saya tidak menafikan
sahabat-sahabat lain, termasuk diri saya sendiri. Mungkin ada rasa suka pada
seseorang, sebut saja sebagai cinta monyet, tapi terlanjur disambar orang lain.
Biarlah itu semua menjadi rahasia masing-masing. Itulah perjalanan hidup yang
penuh rasa nano-nano. Atau adakah kisah yang lebih syahdu dari kisah mereka berdua di angkatan 1988?
Goresan ini hanyalah semacam coretan dindingnya Iwan Fals, atau setara dengan pelajaran
mengarang dari guru bahasa Indonesia kita dulu.
Tugas bercerita yang kadang sangat sulit dikerjakan. Bahkan menjadi
pelajaran yang sangat dibenci oleh kita semua. Kalau kita disuruh mengarang waktu
itu, paling lazim kita akan memulainya dengan
: Pada suatu hari……………. Dan tulisan ini adalah lanjutan pelajaran yang
dulu saya benci itu namun perlahan mulai saya sukai.
Dari Malino ke
Makassar, Dari malino kita tersebar. Dari Malino kita ke Mana-mana, Ke Malino kita
kembali bersama.
Salam
hormat dan rindu selalu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar