Sedikit tersentak dan kaget.
Maklum lagi sedikit bersantai sambil menjaga toko, tiba-tiba anak ketiga saya,
Renaisa, menanyakan sesuatu yang cukup menyentak : “Paaa’ Apa bisa saya tahu masa
depan saya seperti apa?”. Tanyanya sambil pegang buku cerita. Waah, saya jadi terdiam. Apa kira-kira jawaban
yang tepat untuk anak kelas tiga ini yang usianya belum genap sepuluh tahun.
Satu hal yang saya cukup senangi dengan anak saya satu
ini, dia terbilang anak yang keranjingan membaca buku cerita. Main gadgetnya
hanya sesekali itu pun hanya sebentar. Sampai-sampai saya kewalahan membelikannya
buku baru. Kalo normal kan biasanya harga buku ada pada kisaran 30k sampai 50k,
terutama KKPK terbitan mizan group ato buku gramedia lainnya. Jadi kalau anak
saya ini bisa baca buku rata-rata saja 1 hingga 2 buku sehari, maka berapa buku harus
saya sediakan dalam sebulan dikali harga diatas. Syukur-syukur sudah beberapa kali ada pameran
buku dengan diskon besar-besaran yang tidak pernah ketinggalan saya dan
keluarga kunjungi. Soal buku saja, saya
harus pintar-pintar berbagi anggaran antara buku yang diinginkan anak saya,
kebetulan saya punya 4 anak, buku yang dimaui istri saya, dan buku yang saya
sukai sendiri. Ahhh.. jadi ayah curhat namanya nih.
Tapi justru disinilah pengorbanan,
dengan mengabaikan kebutuhan atau keinginan belanja tertier lainnya atau kebutuhan konsumtif yang beragam lagi
menggoda dengan mengalihkannya pada
pembelian buku-buku yang dibutuhkan dan bermutu lagi bergizi.
Dari membaca buku-buku itulah,
barangkali, anak saya itu kerab mengajukan pertanyaan yang mengejutkan dan
menohok. Bila istriku ditanya
pertanyaan sulit pun, biasanya disuruhnya anakku bertanya kepada saya. “Itu bapakmu
tanya di sana, mama lagi sibuk ini”. Jadilah saya seseorang yang mesti serba
tahu, meski terkadang harus pintar-pintar berapologi.
“Begini Nak” Jawabku pelan
sambil memikirkan jawaban yang pas. “Tolong ambilkan kopinya bapak dulu” Kataku
mengulur waktu. Sejurus kemudian saya ingat sepenggal kisah dalam film Kera
Sakti Perjalanan Mencari Kitab Suci ke Barat. Diceritakan bahwa bagaimana sang
Budha muda bercerita tentang seseorang, yang karena keinginannya sendiri yang memaksa, diberitahukan bagaimana
masa depannya yang pada waktu tertentu
akan mati secara sadis. Orang tersebut yang sudah tahu masa depannya justru
mengalami penderitaan dan kesengsaraan. Hari-hari hidupnya diliputi dengan
trauma masa depan akan kematiannya. “Jadi begini Nak”, sambil mengelus
rambutnya yang belum tersisir karena belum mandi pagi, “Coba kira-kira kalau masa depanmu mengatakan
bahwa enam bulan kedepan kamu akan mati
di tempat yang sepi karena ketakutan diburu pocong, bagaimana kira-kira
perasaan kalau kau sudah akan seperti begitu, bagaimana?
Saya tahu betul anakku yang satu ini takut pada hal-hal yang seram. Anakku terdiam, saya juga vakum sejenak. Dalam hati saya bergumam, kenapa saya beri contoh yang menakutkan seperti ya, apa ini tidak bagus menurut ilmu parenting. “Kamu pasti tidak bisa senyum-senyum lagi sekarang, apalagi lompat-lompat jingkrak, kalau kamu sudah tahu pasti akan mati dalam keadaan seseram itu, kan? Pasti pikiranmu akan terhantui dan dipengaruhi oleh kematian tersebut! Berbahagialah kita yang tidak tahu akan masa depan, setidaknya kita masih bebas berbahagia, itulah hikmah kenapa kita tidak perlu tahu masa depan”. Anakku terdiam sambil mencoba mencerna semua yang saya katakan, terlihat sekali dia sedang membayangkan sesuatu. Ia manggut-manggut, senyumnya kembali merekah. Nampaknya buku bacaannya sedari tadin sudah sampai di halaman terakhir.
Saya tahu betul anakku yang satu ini takut pada hal-hal yang seram. Anakku terdiam, saya juga vakum sejenak. Dalam hati saya bergumam, kenapa saya beri contoh yang menakutkan seperti ya, apa ini tidak bagus menurut ilmu parenting. “Kamu pasti tidak bisa senyum-senyum lagi sekarang, apalagi lompat-lompat jingkrak, kalau kamu sudah tahu pasti akan mati dalam keadaan seseram itu, kan? Pasti pikiranmu akan terhantui dan dipengaruhi oleh kematian tersebut! Berbahagialah kita yang tidak tahu akan masa depan, setidaknya kita masih bebas berbahagia, itulah hikmah kenapa kita tidak perlu tahu masa depan”. Anakku terdiam sambil mencoba mencerna semua yang saya katakan, terlihat sekali dia sedang membayangkan sesuatu. Ia manggut-manggut, senyumnya kembali merekah. Nampaknya buku bacaannya sedari tadin sudah sampai di halaman terakhir.
“Paa’ pinjam dulu hp ta sebentar
saja”, Seru Naisa, begitu panggilannya. “Adduh masih saya pake, Nak”. Padahal saya juga sudah bosan dengan
informasi dari hp yang di tanganku, kadang info menegangkan, santai, heboh, hingga informasi lucu, diselingi hoaks apalagi, yang betul-betul membuat pikiran tidak fokus dan tidak karuan. “Iyyo padeng, tapi piji-pijit
kepalaku dulu sebentar nah”. Kalo dia mau pinjam hp berarti kesempatanku minta
dipijit, kesempatan besar. Dan dia tidak bisa menghindar lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar