Kesalahpahaman Mandar dan Bugis
Peristiwa ini terjadi di
pertengahan tahun 1990-an. Sebuah kisah nyata. Berlangsung di sebuah kota yang
sudah tergolong metropolitan, masih Ujungpandang namanya, tahun itu masih 1994, karena perubahan namanya menjadi Kota
Makassar baru terjadi ketika Habibie menjadi presiden, 1998. Makassar menjadi sebuah
kawasan ramai sekaligus penuh harapan yang banyak mempertemukan orang-orang
dari berbagai daerah, bukan saja dari kawasan Indonesia bagian timur, juga dari
seantero indonesia bahkan ada dari Malaysia. Bisalah dibayangkan, betapa banyak
perbedaan yang bersinggungan di kota ini. Dari segi bahasa dan suku begitu
beragam. Ada yang dari pelosok dusun-dusun di kaki gunung atau dari kampung
pesisir yang terisolasi. Apalagi dari segi pemahaman dan sikap keberagamaan,
betul-betul tersaji mulai dari yang biasa-biasa saja hingga yang “aneh-aneh.” Sungguh
sebuah jual beli sosial budaya yang hangat dan terkadang sangat lucu.
Satu dari sekian banyak pertemuan
unik itu terjadi di sebuah kampus ternama di
kota ini, Unhas. Walaupun
belakangan, perguruan tinggi ini tidak bisa juga lepas dari jeratan bisnis
pendidikan. Perkenalan antara dua orang mahasiswa baru yang masing-masing sangat
haus akan persahatan baru. Salah satunya saya kenal betul orangnya. Cerita ini
pun adalah penuturan langsung darinya. Jadi kisah ini masuk kualifikasi sahih
seribu persen. Ia seorang calon filosof muda dan pembaca doa yang menggetarkan
sekaligus seorang penulis berbakat. Di kaki gunung adalah kampung halamannya. Mukimnya
lebih dekat dengan langit. Itu juga lah mungkin yang membuatnya sangat
spritualis bahkan belakangan ini, ia
sering dijuluki sang sufi. Bukan maksud menyombongkan diri, menurutnya, kakek-kakeknya
lah yang melantik para raja daerahnya dulu. Ia juga banyak mengetahui kearifan
atau pesan-pesan leluhur Bugis. Yang lebih menarik saya dengar adalah prediksi-prediksi masa depan
yang dinubuatkan oleh para leluhurnya. Paling heboh ketika ia mengatakan bahwa
suatu saat indonesia ini akan dipimpin oleh presiden keturunan China-Tionghoa. Tapi,
tak eloklah dilanjutkan soal terakhir
ini, nanti dikiranya saya ini seorang politisi atau timses tertentu yang
mengarah-arahkan pada pilihan tertentu pula.
Bagaimana bisa terjadi miskomunikasi?.
Saat itu sedang ramai-ramainya pendaftaran mahasiswa baru, yang berhasil lulus setelah melewati tes. Ramai
tapi sepi, karena sendiri. Begitulah mungkin situasinya. Terkadang terlihat
bodoh sendiri memang kalau sedang menunggu, apalagi kalau kelamaan. Tentu, bagusnya
mencari teman. Disamping bisa membunuh rasa senyap di keramaian, bisa juga
saling kenal lebih jauh dan berbagi pengalaman.
Di tengah kesibukan itulah,
terjadi perkenalan kilat. Keduanya sama-sama canggung yang sedari tadi menunggu
proses pendaftaran yang bertele-tele. Sambil menjulurkan tangan kanannya ke
arah sang filosof muda—teman akrabku itu, sang mahasiswa baru itu berkata sambil tersenyum ramah
“perkenalkan saya Mandar”, dengan spontan dan tak kalah ramahnya, sang filosof
muda tersebut yang, barangkali, terkaget dari perenungan dalamnya menjawab
lugas “ummm... saya Bugis”.
Senyap sesaat. Masih dalam jabat tangan yang erat dan
bergairah. Mandar berpirkir, apakah ini
kebetulan atau sudah menjadi takdir, dua
sosok bertemu yang namanya dipetik dari dua nama etnis besar yang ada di
Sulawesi Selatan. Saat itu belum ada Sulawesi Barat, jadi Polmas, Majene dan
Mamuju masih dalam lingkup Sulawesi Selatan. Untuk meyakinkan dirinya, Mandar
kembali berujar “Memang nama saya Mandar, keluarga saya sudah lama tinggal di
Jawa tapi aslinya keluarga saya dari Mandar, orang tua saya sengaja kasi nama
saya Mandar, barangkali agar saya tetap ingat
asal usul keluarga besar saya”.
“Ohhh begituu..” sahut sang calon filosof. “Kalo begitu nama saya Dilang,
saya memang orang bugis.” Keduanya lantas saling tertawa hampir terbahak-bahak,
yang mengundang perhatian beberapa mata di sekelilingnya. Sebuah miskomunikasi
yang lebih mengakrabkan.
( Free Writing Plus,
Menulis untuk bahagia, Makassar, 04 Feb 2018)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar