Kamis, 22 Februari 2018

Kesalahpahaman Mandar dan Bugis



Kesalahpahaman Mandar dan Bugis

Peristiwa ini terjadi di pertengahan tahun 1990-an. Sebuah kisah nyata. Berlangsung di sebuah kota yang sudah tergolong metropolitan, masih Ujungpandang namanya, tahun itu masih  1994, karena perubahan namanya menjadi Kota Makassar baru terjadi ketika Habibie menjadi presiden, 1998. Makassar menjadi sebuah kawasan ramai sekaligus penuh harapan yang banyak mempertemukan orang-orang dari berbagai daerah, bukan saja dari kawasan Indonesia bagian timur, juga dari seantero indonesia bahkan ada dari Malaysia. Bisalah dibayangkan, betapa banyak perbedaan yang bersinggungan di kota ini. Dari segi bahasa dan suku begitu beragam. Ada yang dari pelosok dusun-dusun di kaki gunung atau dari kampung pesisir yang terisolasi. Apalagi dari segi pemahaman dan sikap keberagamaan, betul-betul tersaji mulai dari yang biasa-biasa saja hingga yang “aneh-aneh.” Sungguh sebuah jual beli sosial budaya yang hangat dan terkadang sangat lucu.

Satu dari sekian banyak pertemuan unik itu terjadi di sebuah kampus ternama di  kota ini, Unhas.  Walaupun belakangan, perguruan tinggi ini tidak bisa juga lepas dari jeratan bisnis pendidikan. Perkenalan antara dua orang mahasiswa baru yang masing-masing sangat haus akan persahatan baru. Salah satunya saya kenal betul orangnya. Cerita ini pun adalah penuturan langsung darinya. Jadi kisah ini masuk kualifikasi sahih seribu persen. Ia seorang calon filosof muda dan pembaca doa yang menggetarkan sekaligus seorang penulis berbakat. Di kaki gunung adalah kampung halamannya. Mukimnya lebih dekat dengan langit. Itu juga lah mungkin yang membuatnya sangat spritualis bahkan belakangan ini,  ia sering dijuluki sang sufi. Bukan maksud menyombongkan diri, menurutnya, kakek-kakeknya lah yang melantik para raja daerahnya dulu. Ia juga banyak mengetahui kearifan atau pesan-pesan leluhur Bugis. Yang lebih menarik saya  dengar adalah prediksi-prediksi masa depan yang dinubuatkan oleh para leluhurnya. Paling heboh ketika ia mengatakan bahwa suatu saat indonesia ini akan dipimpin oleh presiden keturunan China-Tionghoa. Tapi, tak eloklah dilanjutkan soal  terakhir ini, nanti dikiranya saya ini seorang politisi atau timses tertentu yang mengarah-arahkan pada pilihan tertentu pula.

Bagaimana bisa terjadi miskomunikasi?. Saat itu sedang ramai-ramainya pendaftaran mahasiswa baru, yang  berhasil lulus setelah melewati tes. Ramai tapi sepi, karena sendiri. Begitulah mungkin situasinya. Terkadang terlihat bodoh sendiri memang kalau sedang menunggu, apalagi kalau kelamaan. Tentu, bagusnya mencari teman. Disamping bisa membunuh rasa senyap di keramaian, bisa juga saling kenal lebih jauh dan berbagi pengalaman.

Di tengah kesibukan itulah, terjadi perkenalan kilat. Keduanya sama-sama canggung yang sedari tadi menunggu proses pendaftaran yang bertele-tele. Sambil menjulurkan tangan kanannya ke arah sang filosof muda—teman akrabku itu, sang mahasiswa baru  itu berkata sambil tersenyum ramah “perkenalkan saya Mandar”, dengan spontan dan tak kalah ramahnya, sang filosof muda tersebut yang, barangkali, terkaget dari perenungan dalamnya menjawab lugas “ummm... saya Bugis”.

Senyap sesaat.  Masih dalam jabat tangan yang erat dan bergairah. Mandar berpirkir,  apakah ini kebetulan  atau sudah menjadi takdir, dua sosok bertemu yang namanya dipetik dari dua nama etnis besar yang ada di Sulawesi Selatan. Saat itu belum ada Sulawesi Barat, jadi Polmas, Majene dan Mamuju masih dalam lingkup Sulawesi Selatan. Untuk meyakinkan dirinya, Mandar kembali berujar “Memang nama saya Mandar, keluarga saya sudah lama tinggal di Jawa tapi aslinya keluarga saya dari Mandar, orang tua saya sengaja kasi nama saya Mandar, barangkali agar saya tetap ingat  asal usul keluarga besar saya”.   “Ohhh begituu..” sahut sang calon filosof. “Kalo begitu nama saya Dilang, saya memang orang bugis.” Keduanya lantas saling tertawa hampir terbahak-bahak, yang mengundang perhatian beberapa mata di sekelilingnya. Sebuah miskomunikasi yang lebih mengakrabkan.
( Free Writing Plus, Menulis untuk bahagia, Makassar, 04 Feb 2018)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ramadang

Namanya Ramadang. Begitu yang tertulis di akta kelahiran dan ijazahnya. Biasa dipanggil Andang saja, baik oleh orang tuanya ...