Kau Setang Kau Longga
Palilili Kalengnu
Eroki Allalo Yumbaku Yumbasanna
Barakka Allah Taala
Kun Fa Yakun
(Artinya : Engkau
Setan dan Longga, Minggirlah, Ada Yang Mau Lewat, Berkah Allah, Kun Fa Yakun)
Mantra, atau tepatnya baca-baca
dalam bahasa Makassar, diatas adalah
satu-satunya mantra yang masih penulis ingat. Sudah dulu sekali, kurang lebih
tiga puluh tahun lalu—akhir tahun 1980-an, ayah saya mengajarkannya. Tidak banyak
yang diturunkan kepada saya, tidak
sampai sepuluh mantra. Ada mantra pengusir jin dan setan seperti diatas.
Ada mantra agar sesuatu yang kita simpan, seperti barang-barang, tidak bisa sama sekali dilihat orang lain. Ada
juga mantra pengobatan, misalnya untuk menyambung tulang yang patah. Dan yang
paling heboh adalah mantra pengasihan, jenis ini tentu tidak diajarkan oleh
sang ayah, tapi lewat dari teman. Biasanya mantra yang terakhir ini dirapalkan pada saat
bercermin supaya lawan jenis memandang kita dengan rasa cinta. Manjurkah, entahlah.
Contoh mantra diatas, barangkali juga sudah tidak persis
seperti itu isinya, maklum juga sudah lama tidak dirapalkan. Beda dengan dulu
waktu masih anak-anak hingga remaja, selalu saja mantra itu saya ucapkan. Terang saja, rumah saya terletak di pinggir kota,
Malino, yang dipenuhi hutan pinus yang lebat dan pohon ara yang begitu
lebar dengan akar-akarnya yang
menghunjam dalam dan kemana-mana, dekat juga di pekuburan umum, ditambah dengan banyaknya
gua-gua peninggalan jepang di pinggir jalan. Saat itu juga, belum ada listrik, yang ada hanya lampu
petromaks—kalau dulu dikampung disebut lampu strong king—yang berbahan bakar
minyak tanah, lebih banyak gelapnya.
Kondisi demikian, tentulah, membutuhkan keberanian lebih agar dapat beraktivitas dengan nyaman. Disinilah mantra keberanian diperlukan, sehingga kalau keluar rumah atau melalui lokasi-lokasi keramat, maka dengan fasihnya mantra ini saya ucapkan dengan hikmat. Herannya sugesti mantra tersebut begitu kuat, bahkan masuk hutan pun di sore hari yang berkabut tebal, tidaklah menjadi masalah besar.
Kondisi demikian, tentulah, membutuhkan keberanian lebih agar dapat beraktivitas dengan nyaman. Disinilah mantra keberanian diperlukan, sehingga kalau keluar rumah atau melalui lokasi-lokasi keramat, maka dengan fasihnya mantra ini saya ucapkan dengan hikmat. Herannya sugesti mantra tersebut begitu kuat, bahkan masuk hutan pun di sore hari yang berkabut tebal, tidaklah menjadi masalah besar.
Apalagi tidak sedikit cerita yang beredar tentang bagaimana
penampakan makhluk-makhluk menakutkan yang terkadang muncul tiba-tiba hingga
membuat sesiap saja yang melihatnya menjadi ketakutan, bahkan sakit, tapi
sepertinya belum ada yang langsung mati di tempat.
Ada beberapa makhluk menakutkan yang sering orang tua ceritakan
kepada anak-anaknya dulu, apakah sekedar menakut-nakuti atau memang meyakini
keberadaannya. Tapi yang paling populer adalah parakang dan poppo. Kedua makhluk ini, konon, sebenarnya adalah manusia
biasa yang sedang menuntut ilmu hitam hingga membuatnya, sadar atau tidak
sadar, berubah wujud menjadi sosok parakang atau poppo. Hebatnya, ketika sudah
berubah wujud, katanya, banyak kelebihan yang bisa dilakukan, misalnya terbang
ke sana kemari, atau bisa merubah panampakannya menjadi apa saja yang diinginkan,
misalnya menjadi sebutir mangga, menjadi kamboti—anyaman
berbentuk tas yang dijalin dari daun pohon enau, dan sebagainya.
Dalam perkembangannya, mantra-mantra yang diajarkan,
terutama pengusir setan dan jin diatas, tidak lagi saya dirapalkan. Awal ketika saya mulai aktif di Ikatan Remaja
Muhammadiyah (IRM) menjadi akhir dari lenyapnya sedikit demi sedikit
mantra-mantra itu. Ayat kursi
menggantikan mantra pengusir setan dan
jin, dan seterusnya.
Tulisan ringan ini dimaksudkan bukan hanya sekedar bernostalgia tapi lebih dari itu ingin mengumpulkan, kalau perlu, membukukan warisan sekaligus kekayaan historis yang, kalau tidak dilakukan, akan hilang tak berjejak. wallahu alam bishawab
Tulisan ringan ini dimaksudkan bukan hanya sekedar bernostalgia tapi lebih dari itu ingin mengumpulkan, kalau perlu, membukukan warisan sekaligus kekayaan historis yang, kalau tidak dilakukan, akan hilang tak berjejak. wallahu alam bishawab