Jumat, 02 Maret 2018

Mantra Pengusir setan (baca-baca turiolo)



Kau Setang Kau Longga
Palilili Kalengnu
Eroki Allalo  Yumbaku Yumbasanna
Barakka Allah Taala
Kun Fa Yakun

(Artinya : Engkau Setan dan Longga, Minggirlah, Ada Yang Mau Lewat, Berkah Allah, Kun Fa Yakun)


Hasil gambar untuk pengusir jin





Mantra, atau tepatnya baca-baca dalam bahasa Makassar,  diatas adalah satu-satunya mantra yang masih penulis ingat. Sudah dulu sekali, kurang lebih tiga puluh tahun lalu—akhir tahun 1980-an, ayah saya mengajarkannya. Tidak banyak yang diturunkan kepada saya, tidak  sampai sepuluh mantra. Ada mantra pengusir jin dan setan seperti diatas. Ada mantra agar sesuatu yang kita simpan, seperti barang-barang,  tidak bisa sama sekali dilihat orang lain. Ada juga mantra pengobatan, misalnya untuk menyambung tulang yang patah. Dan yang paling heboh adalah mantra pengasihan, jenis ini tentu tidak diajarkan oleh sang ayah, tapi lewat dari teman. Biasanya mantra yang terakhir  ini dirapalkan pada saat bercermin supaya lawan jenis memandang kita dengan  rasa cinta. Manjurkah, entahlah.

Contoh mantra diatas, barangkali juga sudah tidak persis seperti itu isinya, maklum juga sudah lama tidak dirapalkan. Beda dengan dulu waktu masih anak-anak hingga remaja, selalu saja mantra itu saya ucapkan.  Terang saja, rumah saya terletak di pinggir kota, Malino, yang dipenuhi hutan pinus yang lebat dan pohon ara yang begitu lebar  dengan akar-akarnya yang menghunjam dalam dan kemana-mana, dekat juga  di pekuburan umum, ditambah dengan banyaknya gua-gua peninggalan jepang di pinggir jalan. Saat itu juga,  belum ada listrik, yang ada hanya lampu petromaks—kalau dulu dikampung disebut lampu strong king—yang berbahan bakar minyak tanah, lebih banyak gelapnya.

Kondisi demikian, tentulah, membutuhkan keberanian lebih agar dapat beraktivitas dengan nyaman. Disinilah mantra keberanian diperlukan, sehingga kalau keluar rumah atau melalui lokasi-lokasi keramat, maka dengan fasihnya mantra ini saya ucapkan dengan hikmat. Herannya sugesti mantra tersebut begitu kuat, bahkan masuk hutan pun di sore hari yang berkabut  tebal, tidaklah menjadi masalah besar.

Apalagi tidak sedikit cerita yang beredar tentang bagaimana penampakan makhluk-makhluk menakutkan yang terkadang muncul tiba-tiba hingga membuat sesiap saja yang melihatnya menjadi ketakutan, bahkan sakit, tapi sepertinya belum ada yang langsung mati di tempat.

Ada beberapa makhluk menakutkan yang sering orang tua ceritakan kepada anak-anaknya dulu, apakah sekedar menakut-nakuti atau memang meyakini keberadaannya. Tapi yang paling populer adalah parakang  dan poppo. Kedua  makhluk ini, konon, sebenarnya adalah manusia biasa yang sedang menuntut ilmu hitam hingga membuatnya, sadar atau tidak sadar, berubah wujud menjadi sosok parakang atau poppo. Hebatnya, ketika sudah berubah wujud, katanya, banyak kelebihan yang bisa dilakukan, misalnya terbang ke sana kemari, atau bisa merubah panampakannya menjadi apa saja yang diinginkan, misalnya menjadi sebutir mangga, menjadi kamboti—anyaman berbentuk tas yang dijalin dari daun pohon enau, dan sebagainya.

Dalam perkembangannya, mantra-mantra yang diajarkan, terutama pengusir setan dan jin diatas, tidak lagi saya dirapalkan.  Awal ketika saya mulai aktif di Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM) menjadi akhir dari lenyapnya sedikit demi sedikit mantra-mantra itu.  Ayat kursi menggantikan mantra pengusir setan  dan jin, dan seterusnya.

Tulisan ringan ini dimaksudkan bukan hanya sekedar bernostalgia tapi lebih dari itu ingin mengumpulkan, kalau perlu, membukukan warisan sekaligus kekayaan historis yang, kalau tidak dilakukan, akan hilang tak berjejak. wallahu alam bishawab

Adakah Puisi Hari Ini



Hasil gambar untuk suasana hening




Aku ditanya :
Sudahkah tercipta sebuah puisi hari ini
Jawabku: belum
Tidak ada ekstase hari ini
Tidak ada pergulatan dari pagi hingga sore
Semoga malam menjelang muncullah

Tapi aku rindu puisi
Sepenggal saja sudah cukup
Jawabku : tunggu saja
Terlalu banyak mendung di hatiku hari ini
Urusan jual beliku belum kelar
Aku masih berburu

Tapi diri serasa hampa tanpa sebaris puisi
Lebih baik mati saja tanpa dibelai puisi
Jawabku : sebentar lagi
Ini sudah menjelang malam
Sesaat lagi urusanku usai
Semoga malaikat pemantik puisi segera muncul

Tapi aku tak tahan lagi
Napasku tersisa ditenggorokan, aku haus puisi
Satu penggal saja, yang penting isinya berbisa
Jawabku: aku mohon jangan desak aku
Puisiku akan hampa hambar bila dipaksa-paksa
Tahan dulu  dahaga puisimu

Tapi inilah permohonan terakhirku, mana puisiku?
Jawabku : berhentilah meminta
Jariku sudah menari diatas kertas
Saripati kata-kataku sudah membentuk makna
Dari tak terhingga kata
Sudah kupetik yang terbaik
Ambil dan bacalah untainnya
Diatas kertas putih yang bernoda hitam itu

Jawabnya : genap sudah rasaku hari ini
Jangan lupa esok masih ada hari baru
Tak ada hari tanpa puisi
Jawabku : jangan todong aku seperti itu
Boleh-boleh  akulah yang maut duluan

Kamis, 01 Maret 2018

Yusuf dan Zulaikha, Sebuah Novel Alegoris



Apresiasi dan Kritik Buku
Judul                   : Yusuf dan Zulaikha, Sebuah Novel Alegoris
Penulis                 : Hakim Nuruddin Abdurahman Jami
Penerbit              : Lentera
Hal                      : 301 hal
Tahun terbit        : 2007, cet. 5

Image result for roman alegoris Yusuf dan Zulaikha oleh abdurahman


Tidak salah kiranya kalau roman  ini hanya bisa disetarakan atau diperbandingkan dengan roman Layla dan Majnun karya Nizami.  Pertama ada kesamaan dari segi ketinggian sastra dan makna-makna simboliknya, bergenre alegoris. Kedua dari segi tema yang diusungnya, hakekat cinta. Semua pembaca, dengan tingkatan pemahaman yang beragam, dapat menafsirkan kedua roman tersebut, apakah sekedar cinta lahiriah atau cinta maknawiyah antara pecinta sejati dengan Yang Maha Cinta.

Yang mengherankan, mengapa roman sehebat ini tidak sepopuler roman Layla dan Majenun, padahal roman Yusuf dan Zulaikha ini memiliki landasan historis dan wahyu yang begitu nyata?

Membaaca novel alegoris ini, Yusuf dan Zulaikha,  serasa meleijitkan pemahaman bahkan pengalaman  kita tentang makna, muatan dan tujuan cinta yang sejati.
Memaknai cinta Yusuf dan Zulaikha tentu  memiliki tempat tersendiri, terutama bagi penganut agama-agama  ibrahimik, betapa tidak kisah ini diabadikan dalam kitab suci, termasuk dalam Alquran,  bahkan diberi porsi tersendiri sebagai nama sebuah surah, Surah Yusuf. Dan Allah sendiri mengatakan bahwa sejarah mereka berdua adalah kisah paling indah.

Perjalanan cinta keduanya bisa bermakna lahiriah sekaligus batiniah. Disinilah letak kelebihan novel alegoris ini yang mencoba menghadirkan perjalanan cinta yang lebih bermakna multitafsir, dengan sentuhan kata dan kalimat yang sangat puitis tapi tetap bermakna pun tidak membosankan. Setelah membaca novel ini, rasa-rasanya kita digiring  membaca sekaligus beberapa pujangga besar, Rumi, Saadi dan Khalil Gibran,   pada diri penulis roman alegoris ini.

Plot cerita  perjalanan cinta yang tiada duanya. Cinta Zulaikha yang penuh sembilu akhirnya terbalas, namun sungguh untuk sampai ke titik itu, begitu banyak tebing terjal nan licin, jurang yang dalam, sungai penghalang yang luas, bahkan gunung menjulang pun menjadi pembatasnya.

Cinta yang  nyaris membunuh Zulaikha, menggilakannya  karena hanya ada Yusuf dalam detik fikir dan langkahnya.

Alkisah, Zulaikha adalah putri tersayang seorang raja yang hampir-hampir tidak melihat lelaki lain selain ayahnya. Kecantikannya tiada tara dan tiada duanya. Semua dimilikinya, harta, kekuasaan dan tentu pesonanya. Awalnya, ia mengenal seseorang yang begitu paripurna paras dan perangainya yang tidak mampu berkata dan berperilaku buruk, ia belum tahu namanya saat itu, dalam mimpi-mimpinya  yang datang berulang-ulang. Yang ia tahu sosok itu adalah Wazir ternama Kerajaan Mesir. Dialah cinta sejatinya.

Itulah yang membuatnya menolak begitu banyak pinangan dari para bangsawa dan raja yang sangat tertarik padanya, mulai dari Suriah hingga Yunani. Dalam hatinya ia hanya mendamba seorang yang dinantinya, Wazir Mesir itu. Itulah yang senantiasa bergiang bukan hanya di telinganya tapi juga di hatinya bahkan diseluruh tubuhnya,  yang membuatnya sakit hingga mengkhawatirkan sang ayah tercinta, raja yang berkuasa lagi kaya raya.

Maka diutuslah kepercayaan raja ke Wazir Mesir mengenai maksud mulia Zulaikha kepada sang Wazir. Gayung bersambut, Sang Wazir pun sangat tersanjung dan berbahagia. Akhirnya keduanya menjadi suami istri, yang mana Zulaikha sendiri kaget bukan kepalang ternyata wazir yang dihadapannya bukanlah seperti yang selalu hadir dalam mimpi-mimpinya. Cintanya pun serasa mengambang. Permainan apa ini. Namun cintanya tak pernah berhenti berkobar bukan kepada sang Wazir yang kini jadi suaminya, tapi kepada Wazir sejati yang selalu didambanya.

Serta merta Yusuf pun hadir di tengah keluarga mereka, setelah dibelinya dengan setumpuk emas hingga hampir mengosongkan pundi kekayaan mereka. Tapi karena permintaan Zulaikha, suaminya pun merelakan. Bahkan sang raja pun yang terpesona dengan Yusuf kalah bersaing dengan keluarga Zulaikha dalam mendapatkannya. Karena Zulaikah begitu yakin dan mendesak bergelora, inilah sesungguhnya manusia yang didambanya lewat mimpi-mimpinya itu.

Disinilah cinta Zulaikha makin menjadi-jadi tapi sangat menyiksanya, seakan tubuh dan jiwanya luruh tak berbentuk ketika memandang Yusuf, yang dianggapnya mudah diperdaya karena hampir semua syarat dipunyainya. Zulaikha makin gila cintanya, karena Yusuf tidak membalasnya, bahkan mengacuhkannya dengan sangat dingin. Betapa tidak, pikir Zulaikha, “Yusuf itu budakku, aku  membelinya dengan sangat mahal, mestinya dia menuruti segenap permintaanku. Tapi apa yang terjadi, akulah yang menjadi budak cintanya. Aku tidak berdaya”. Taman-taman yang indah, budak yang banyak, istana megah, semuanya tidak lagi menarik hatinya. Dalam pikirnya hanya ada satu dan terus berulang-ulang menghantui, Yusuf.

Bahkan cemburu butanya terus membuncah, kepada jubah yang dikenakan Yusuf, ia pun menuduh, “mengapa bukan aku yang menjadi pembalut tubuhnya”, kepada tembok yang disandari Yusuf pun ia  juga berseru, “kenapa bukan aku yang jadi sandarannya”, kepada pasir yang dilalui Yusuf pun ia mengumpat, “kenapa bukan aku saja yang diinjak oleh Yusuf”. Sungguh cinta yang mencutikan nalar.
Segala cara dan jebakan digunakan untuk memperdaya Yusuf agar jatuh ke pelukan Zulaikha. Namun seperti yang sudah-sudah, semua sia-sia belaka. Yusuf selalu berlindung pada Tuhan, sesembahan satu-satunya yang paling patut dicinta.

Akhirnya Yusuf pun dipenjara karna muslihat Zulaikha, sang pecinta yang sudah kehilangan jurus penjebak. Akankah ini menyurutkan cinta Zulaikha, tidak. Cinta Zulaikha tetap membara. Di istananya, ia tetap membayangkan Yusuf tak habis-habisnya. Ia membelai dan memeluk rindu  pakaian yang pernah dikenakan Yusuf, meminum air dari gelas yang pernah dipakai Yusuf. Apa saja diperbuatnya agar ia seolah-olah bersama Yusuf.

Pada saatnya, sebaimana yang dijanjikan Tuhan lewat jibril,  Yusuf kembali ke istana  berkat kemampuannya menawilkan mimpi sang raja  yang dilanda galau bahkan ia diangkat sebagai wazir baru karena kecakapannya. Di sisi lain kejayaan dan kekayaan Zulaikha makin pudar, termasuk kecantikannya yang tak terlihat lagi, rambutnya sudah mulai memutih, punggungnya pun sudah mulai bungkuk bahkan matanya sudah mulai buta. Tapi apakah kondisi ini menyurutkan kobaran api cintanya pada Yusuf, sekali lagi tidak. Bahkan kian bertambah-tambah setelah mengetahui kini Yusuf telah menjadi Wazir dan namanya menjadi buah bibir di seluruh negeri. Ia makin cemburu, ketika nama yang dianggap kekasihnya itu selau disebut-sebut.

Zulaikha akhirnya membangun tenda kecil di pinggir jalan ibukota, hanya sekedar ingin merasakan kehadiran Yusuf ketika ia lewat berkuda,  yang itu pun sudah sangat membahagiakan cintanya. Itulah pekerjaannya saban hari untuk menawarkan sedebu cintanya yang terus menyala.

Pada waktu yang tak terduga, pertemuan keduanya terjadi. Cinta Zulaikha yang serasa ribuan tahun dinanti akhirnya terbalas juga.  Atas perkenaan Tuhan Yang Maha Cinta, melalui doa nabi Yusuf, Zulaikha kembali cantik jelita, tubuhnya semampai kembali,  bahkan bisa melihat kembali. Keduanya pun hidup bahagia, dengan bersuanya menjadi satu antara pecinta yang dicinta.  

Dalam gumam doanya, Zulaikha bermohon kepada Tuhan, agar boleh kiranya keduanya diwafatkan bersamaan. Karena ia, sebagaimana dulu, tidak akan sanggup hidup sendiri tanpa Yusuf disisinya. Atau paling tidak, pintanya, lebih baiklah kiranya kalau ia lebih dahulu menghadap kepada yang Maha Cinta.

Apa hendak dikata, tak seberapa lama kebahagiaan direguk, muncullah kesedihan baru dari sang pencinta, sebagaimana tercantum di hampir penghujung roman ini “Ketika Yusuf  telah menghembuskan nafas terakhir, semua orang di sekitarnya mengeluarkan tangisan berkabung di langit biru. Zulaikha menanyakan bunyi bising apakah itu,  dan dikatakan kepadanya bahwa Yusuf telah menukar mahkotanya dengan keranda, mengucapkan selamat berpisah kediaman terbatas di dunia ini, dan membuat istana abadi  di balik ruang dan waktu.”

Ramadang

Namanya Ramadang. Begitu yang tertulis di akta kelahiran dan ijazahnya. Biasa dipanggil Andang saja, baik oleh orang tuanya ...