Beberapa petikan nasehat dari Hakim Nuruddin Abdurrahman Jami, penulis roman alegoris “Yusuf dan
Zulaikha” (Penerbit Lentera, hal. 297-299)
“Buku adalah sahabat orang yang sendiri. cahaya cemerlang
dari fajar kebijaksanaan. Yang selalu membuka pandangan baru segala
pengetahuan. Ia penasehat yang disukai, berbusana kulit hewan, penuh pengertian
baik, yang dengan diam-diam menasehati
tuannya.”
“Pergaulan dengan raja-raja adalah api yang berkobar,
larilah darinya laksana asap. Namun , apabila engkau memerlukan sesuatu dari
api untuk menyalakan obormu sendiri, maka gunakanlah itu, tetapi tetaplah
menjauh, karena aku khawatir apabila engkau mendekat terlalu rapat, mungkin
engkau akan kehilangan cahaya diri. Janganlah menerima jabatan resmi yang akan
membuatmu menjadi sasaran dan pemecatan. Jauhilah kemewahan dan kasur lembut itu, orang lain pasti akan
datang mengatakan supaya engkau pindah. Kehidupan
biasa lebih baik daripada memegang jabatan.”
“Sucikanlah pikiranmu dari kesombongan, dan bersikaplah
santun terhadap siapa saja yang engkau temui. Biarlah kehebatanmu sendiri
menjadi nyata, sebagai lawan terhadpa hampanya kesombongan. Jangan seperti si
pandir, terus terikat pada ayahnya, tinggalkan ayahmu, dan jadilah putra dari
kebaikan. Selama asap tidak mengeluarkan cahaya sendiri, apa untungnya ia
dilahirkan oleh api?”
“Bila engkau diberi nasehat baik, sediakanlah tempat
untuknya dalam jiwamu, jangan seperti orang tolol, yang membiarkannya masuk di
satu telinga dan keluar di telinga yang lain. Waktu diperlukan bagi benih untuk
berkuncup atau mutiara untuk berbentuk. Apabila seseorang sadar, sepatah kata
sudah cukup.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar