Kamis, 01 Maret 2018

nasehat dari Hakim Nuruddin Abdurrahman Jami



Beberapa petikan nasehat dari Hakim Nuruddin Abdurrahman Jami, penulis roman alegoris “Yusuf dan Zulaikha” (Penerbit Lentera, hal. 297-299)

“Buku adalah sahabat orang yang sendiri. cahaya cemerlang dari fajar kebijaksanaan. Yang selalu membuka pandangan baru segala pengetahuan. Ia penasehat yang disukai, berbusana kulit hewan, penuh pengertian baik,  yang dengan diam-diam menasehati tuannya.”

“Pergaulan dengan raja-raja adalah api yang berkobar, larilah darinya laksana asap. Namun , apabila engkau memerlukan sesuatu dari api untuk menyalakan obormu sendiri, maka gunakanlah itu, tetapi tetaplah menjauh, karena aku khawatir apabila engkau mendekat terlalu rapat, mungkin engkau akan kehilangan cahaya diri. Janganlah menerima jabatan resmi yang akan membuatmu menjadi sasaran dan pemecatan. Jauhilah kemewahan  dan kasur lembut itu, orang lain pasti akan datang mengatakan supaya engkau  pindah. Kehidupan biasa lebih baik daripada  memegang  jabatan.”

“Sucikanlah pikiranmu dari kesombongan, dan bersikaplah santun terhadap siapa saja yang engkau temui. Biarlah kehebatanmu sendiri menjadi nyata, sebagai lawan terhadpa hampanya kesombongan. Jangan seperti si pandir, terus terikat pada ayahnya, tinggalkan ayahmu, dan jadilah putra dari kebaikan. Selama asap tidak mengeluarkan cahaya sendiri, apa untungnya ia dilahirkan oleh api?”
“Bila engkau diberi nasehat baik, sediakanlah tempat untuknya dalam jiwamu, jangan seperti orang tolol, yang membiarkannya masuk di satu telinga dan keluar di telinga yang lain. Waktu diperlukan bagi benih untuk berkuncup atau mutiara untuk berbentuk. Apabila seseorang sadar, sepatah kata sudah cukup.”


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ramadang

Namanya Ramadang. Begitu yang tertulis di akta kelahiran dan ijazahnya. Biasa dipanggil Andang saja, baik oleh orang tuanya ...