Selasa, 29 Oktober 2019

Makassar Istimewa




Hasil gambar untuk makassar


Makassar itu unik nan istimewa. Mengapa bisa? Karena ia merujuk pada satu nama suku bangsa tertentu sekaligus menunjuk suatu lokasi ibukota propinsi yang cukup ternama. Setidaknya di Indonesia, sulit menemukan suatu nama suku bangsa merangkap menjadi nama daerah tertentu. Kota Medan yang mayoritas Batak. Ibukota Jakarta dengan Betawinya. Bandung dengan orang Sundanya, dan seterusnya. Inilah kelebihan utama dan yang pertama dari "Makassar".
Lantas dari kata Makassar bermula.
Disebut dalam buku Negarakertagama yang ditulis oleh Prapanca pada zaman Gajah Mada (1364), seperti dal;am sarga XIII dan XIV disebutkan daerah-daerah wilayah Majapahit:
“muwah tanah; Bantayan pramuka Bantayan le Luwuk tentang Udama-kartayadhi nikanang sanusaspupul Ikangsaksasanusanusa Makasar Butun Banggawi Kuni Craliyao mwangi (ng) Selaya Sumba Soto Muar.”
Apa yang disebut Prapanca dalam buku tersebut adalah sebuah negeri, yaitu negeri Makassar, sama dengan yang disebut  Bantayan (Bantaeng), Selaya (Selayar), dan lainnya.
Lebih jelas lagi yang disajikan oleh Tome Pires dalam catatan perjalanannya yang berjudul Summa Orientale pada tahun 1513 yang diterbitkan pada tahun 1944. Dikatakan bahwa orang Makassar itu telah melakukan perdagangan dengan Malaka, Jawa, Borneo, Siam dan semua negeri-negeri  antara Pahang dan Siam, orang Makassar lebih menyerupai orang Siam.
Dalam himne Bissu’ di Bone, nama Makassar sudah disebut sebagaimana yang telah dibukukan oleh Gilbert Hamonic, dikatakan :
399. Nasama nrelle ramma
400. Nasama turu’ puanna
401. Rau-rau ri Mangkasa
402. Bua tello ri Malaju
403. Pawelle liweng ri Jawa
404. Pamollo liweng ri Sunra
Nama Makassar dalam himne Bissu tersebut diperkirakan ada alam abad ke-9, sama dengan Malayu dan Jawa. Suatu himne adalah bernilai sacral bagi orang Bissu, diterima sebagai warisan turun-temurun tanpa berani menambah atau menguranginya, oleh karena dianggap ciptaan Dewata, bahwa sekali dicipta demikianlah adanya. Apabila terjadi kesalahan penuturan, maka doa-doa akan menjadi hambar. (Syekh Yusuf, Seorang Ulama Sufi dan Pejuang, oleh Abu Hamid, Yayasan Obor Indonesia 1994. Cet.1 Jakarta, hal.3-4)
To be continued….

Rabu, 23 Oktober 2019

Untuk Para Sahabat Spensa 91 Malino



Hasil gambar untuk reuni smp kartun


Orang selalu bicara tentang kebetulan. Tapi saya tidak percaya itu. Saya meyakini bahwa apa pun yang sudah terjadi adalah suatu rangkaian terencana yang melibatkan Yang Maha Perencana. Begitu pula ketika kita pernah bersama-sama mengarungi etape waktu  yang disebut Angkatan 1988.

Banyak hal yang perlu dikenang sekaligus dirayakan bersama, dengan pendekatan dan persepsi kita yang sangat relatif, simpatik, empatik bahkan ada rasa-rasa bapernya.
Pertama-tama saya sangat mengapresiasi sesiapa saja yang memulakan, membangun, merawat dan membesarkan komunitas ini, iyya Angkatan 1988 atau Spensa 1991. Tentu tidaklah semudah membalikkan telapak kaki. Saya hanya dapat membayangkan betapa kalian--sahabat-sahabat saya--berjibaku dengan segenap pengorbanan waktu, perasaan dan materialnya masing-masing. Itulah juga yang membuat  saya cendrung malu karena selama itu saya tidak ikut berkontribusi di dalamnya. Tapi percayalah, dan tidak usah kalian belah dadaku, bahwa dari jauh saya tetap mendoakan komunitas ini dan begitu pula keselamatan sahabat-sahabat semua, meskipun  tidak bisa ditakar besaran dan nilainya oleh kita semua makhluk yang sangat nisbi ini. 

Di sela-sela kenangan indah di penghujung tahun 80-an hingga awal tahun 90-an itu, tentu ada saja kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat yang pastinya sudah bisa dicatat sebagai dosa, karena di etape itulah  awal baliq kita dimulai, yaitu ketika terjadi pertama kali mimpi basah bagi kaum perjaka dan haid pertama bagi kamu perawan.

Itulah dorongan terbesar saya   membuat coretan ini, yaitu ingin memohon maaf kepada semua sahabat atas segala khilaf dan dosa pada masa itu. Dan tanpa diminta pun, saya akan memaafkan segenap sahabat.  Apakah dulu saya pernah pinjam pulpen, buku, uang  atau apa saja lantas rusak atau tidak balik lagi, apakah pernah kita berselisih, saling menebar aib atau bergossip ria bahkan barangkali saling mengumpat dan mengatai  dengan ujaran tak pantas. Mari saling memaafkan.

Dari rangkaian re-union ini pula lah, kita belajar bahwa perjalanan hidup bukanlah sesuatu yang linear. Bagaimana  dulu para sahabat, sebagai contoh, yang menonjol secara akademis dan yang biasa-biasa saja, pada akhirnya tidak menjadi penentu keberhasilannya di kemudian hari, kalau lah misalnya yang menjadi paramaternya adalah keberhasilan material dan karir. Dan syukurnya, dengan keterbatasan pengetahuan saya, komunitas ini tidak tersekat dengan batas-batas picik berupa kesuksesan material, karir dan semacamnya. Kita disatukan oleh sesuatu yang sangat primordial, kesamaan sejarah di masa silam yang telah ikut membentuk kita semua hingga seperti saat ini. 

Ingat spensa 91, maka yang paling mula-mula muncul adalah ingat sama Pak Ms, sang direktur Properti & Tanah Kapling,  dan ibu As. Bukan karena mereka lah yang pernah saya temui langsung di Makassar. Tapi, menurut saya, mereka adalah symbol persahabatan dan cinta abadi Spensa 91. Betapa tidak, mereka berdua telah menabur cinta kepada selainnya sekian tahun lamanya hingga mereka melanglang buana ke tanah Jawa dan Nusa Tenggara, namun pada ending-nya mereka ketemu dan dipertemukan bersama. Patut dicurigai bahwa cinta mereka sudah bersemi sejak tempo doeloe itu. Malu-malu kucing, senter-senter bella, hanya mereka berdua yang tahu. Mutar-mutar kemana-mana akhirnya bersama kembali. Saya tidak menafikan sahabat-sahabat lain, termasuk diri saya sendiri. Mungkin ada rasa suka pada seseorang, sebut saja sebagai cinta monyet, tapi terlanjur disambar orang lain. Biarlah itu semua menjadi rahasia masing-masing. Itulah perjalanan hidup yang penuh rasa nano-nano. Atau adakah kisah yang lebih syahdu dari kisah mereka berdua di angkatan 1988?

Goresan ini hanyalah semacam coretan dindingnya Iwan Fals, atau setara dengan pelajaran mengarang dari guru bahasa Indonesia kita dulu.  Tugas bercerita yang kadang sangat sulit dikerjakan. Bahkan menjadi pelajaran yang sangat dibenci oleh kita semua. Kalau kita disuruh mengarang waktu itu, paling lazim kita akan memulainya dengan  : Pada suatu hari……………. Dan tulisan ini adalah lanjutan pelajaran yang dulu saya benci itu namun perlahan mulai saya  sukai.

Dari Malino ke Makassar, Dari malino kita tersebar.  Dari Malino kita ke Mana-mana, Ke Malino kita kembali bersama.

Salam hormat dan rindu selalu


Ramadang

Namanya Ramadang. Begitu yang tertulis di akta kelahiran dan ijazahnya. Biasa dipanggil Andang saja, baik oleh orang tuanya ...