Makassar itu
unik nan istimewa. Mengapa bisa? Karena ia merujuk pada satu nama suku bangsa
tertentu sekaligus menunjuk suatu lokasi ibukota propinsi yang cukup ternama. Setidaknya
di Indonesia, sulit menemukan suatu nama suku bangsa merangkap menjadi nama daerah
tertentu. Kota Medan yang mayoritas Batak. Ibukota Jakarta dengan Betawinya. Bandung
dengan orang Sundanya, dan seterusnya. Inilah kelebihan utama dan yang pertama dari "Makassar".
Lantas dari kata
Makassar bermula.
Disebut dalam
buku Negarakertagama yang ditulis oleh Prapanca pada zaman Gajah Mada (1364),
seperti dal;am sarga XIII dan XIV disebutkan daerah-daerah wilayah Majapahit:
“muwah tanah; Bantayan pramuka Bantayan le
Luwuk tentang Udama-kartayadhi nikanang sanusaspupul Ikangsaksasanusanusa
Makasar Butun Banggawi Kuni Craliyao mwangi (ng) Selaya Sumba Soto Muar.”
Apa yang
disebut Prapanca dalam buku tersebut adalah sebuah negeri, yaitu negeri
Makassar, sama dengan yang disebut
Bantayan (Bantaeng), Selaya (Selayar), dan lainnya.
Lebih jelas
lagi yang disajikan oleh Tome Pires dalam catatan perjalanannya yang berjudul
Summa Orientale pada tahun 1513 yang diterbitkan pada tahun 1944. Dikatakan bahwa
orang Makassar itu telah melakukan perdagangan dengan Malaka, Jawa, Borneo,
Siam dan semua negeri-negeri antara
Pahang dan Siam, orang Makassar lebih menyerupai orang Siam.
Dalam himne
Bissu’ di Bone, nama Makassar sudah disebut sebagaimana yang telah dibukukan
oleh Gilbert Hamonic, dikatakan :
399. Nasama nrelle ramma
400. Nasama turu’ puanna
401. Rau-rau ri Mangkasa
402. Bua tello ri Malaju
403. Pawelle liweng ri Jawa
404. Pamollo liweng ri Sunra
Nama Makassar
dalam himne Bissu tersebut diperkirakan ada alam abad ke-9, sama dengan Malayu
dan Jawa. Suatu himne adalah bernilai sacral bagi orang Bissu, diterima sebagai
warisan turun-temurun tanpa berani menambah atau menguranginya, oleh karena
dianggap ciptaan Dewata, bahwa sekali dicipta demikianlah adanya. Apabila
terjadi kesalahan penuturan, maka doa-doa akan menjadi hambar. (Syekh Yusuf, Seorang Ulama Sufi dan
Pejuang, oleh Abu Hamid, Yayasan Obor Indonesia 1994. Cet.1 Jakarta, hal.3-4)
To be continued….
Tidak ada komentar:
Posting Komentar