"Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama
tidak menulis ia akan hilang dari masyarakat dan sejarah, menulis adalah
bekerja untuk keabadian"
(Pramoedya Ananta Toer)
Hari-hari belakangan ini agak berbeda.
Setidaknya setelah mengetahui pentingnya menulis. Setelah merasakan
nikmatnya menulis. Apalagi kalau tulisan yang dihasilkan tersebut cukup berbobot
dan mendapat apresiasi. ditambahlagi setelah
punya blog sendiri, yang menuntut untuk selalu diisi dan di-update. Terasa sekali ada
yang kurang ketika satu, dua hari atau
seminggu tidak menghasilkan tulisan. "Hampa terasa hidupku", meminjam syair sebuah lagu.
Semoga ini suatu proses kearah penyatuan diri dengan
aktivitas menulis. Sehingga menulis bukan lagi dianggap sebagai suatu tantangan
atau prestasi tersendiri, melainkan sudah dianggap sebagai kebutuhan diri. Hingga
pada akhirnya kebutuhan menulis hampir sama, kalau tidak betul-betul sama,
dengan kebutuhan akan makan dan minum. Tanpa tulisan, matilah. Begitulah kira-kira.
Apalagi aktivitas menulis, saat ini, tidaklah sesulit dulu-dulu. Adanya gadget,
PC dan laptop semakin mempermudah aktivitas menulis. Bahkan, barangkali, sudah
sangat kurang, atau sudah nyaris punah, penulis menuangkan ide-idenya di atas
kertas.
Sudah barang tentu, menulis bukanlah sesuatu yang
mudah pada awalnya. Tidak segampang membaca atau berbincang dengan orang. Karena
menulis memiliki kaidah-kaidah umum yang telah menjadi standar. Agar tulisan
yang dihasilkan, sudah barang tentu, idealnya, bukan untuk dikonsumsi sendiri
oleh penulisnya, tapi lebih bagusnya para pembaca yang dapat memetik makna dan
manfaatnya. Apalagi kalau tulisan itu bisa menjadi viral, bisa-bisa melahirkan
Bagi saya menulis adalah salah satu siklus
penting dalam kehidupan nyata. Manakala tidak menulis dalam waktu tertentu,
berarti akan terjadi kepincangan, terjadi missing. Setiap
manusia, secara umum, memiliki fakultas diri yang sama. Tentu pula dengan
aktivitas tertentu yang menyertainya.
Telinga untuk mendengar, mata untuk melihat dan
membaca, akal fikiran untuk menimbang, hati atau jiwa untuk bertafakkur. Dan
segenap fakultas itu dipergunakan dalam interaksi dengan alam sekitar terutama
dengan manusia lainnya, maka berlangsunglah diskusi. Itulah siklus inderawi
yang berlangsung dari waktu ke waktu. Apakah itu sudah cukup? Belum
Bagi saya, dan barangkali oleh sedikit orang, siklus
itu baru paripurna atau lengkap ketika siklus itu disertai dengan aktivitas
menulis. Kesemua aktivitas di atas, kalau boleh disederhanakan merupakan input
bagi jiwa dan raga, sementara outputnya adalah dengan menulis. Menulis akan
melengkapi siklus, yang pada dasarnya dan pada akhirnya menulis itu
sendiri bisa menjadi input sekaligus, karena dengan menulis justru akan
memperkaya jiwa bahkan membuat raga menjadi lebih sehat. Sampai-sampai boleh
dikatakan bahwa menulis adalah merupakan suatu terapi.
Alangkah naif dan ruginya, kalau kita tidak
menulis padahal sudah terlalu banyak yang dilalui dan dialami yang tidak
dipahatkan dalam bentuk tulisan. Apalagi kalau Kita sudah banyak membaca buku
hingga menjalani pendidikan tinggi dengan seabrek gelar akademis, sudah banyak
berdiskusi segala macam tema dengan banyak pihak, sudah banyak melakukan
perenungan dan seterusnya. Tapi pengalaman dan kesan hilang begitu saja.
Jadi aktivitas menulis mesti selalu disandingkan
dengan aktivitas membaca, menilai, merenung, berdiskusi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar