Jumat, 01 November 2019

Mengapa Mesti Menulis



Hasil gambar untuk pentingnya menulis



"Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama tidak menulis ia akan hilang dari masyarakat dan sejarah, menulis adalah bekerja untuk keabadian"
(Pramoedya Ananta Toer)

Hari-hari belakangan ini agak berbeda. Setidaknya setelah mengetahui pentingnya menulis. Setelah merasakan nikmatnya menulis. Apalagi kalau tulisan yang dihasilkan tersebut cukup berbobot dan mendapat apresiasi.  ditambahlagi setelah punya blog sendiri, yang menuntut untuk selalu diisi dan di-update. Terasa sekali ada yang kurang ketika satu,  dua hari atau seminggu tidak menghasilkan tulisan. "Hampa terasa hidupku", meminjam syair sebuah lagu.

Semoga ini suatu proses kearah penyatuan diri dengan aktivitas menulis. Sehingga menulis bukan lagi dianggap sebagai suatu tantangan atau prestasi tersendiri, melainkan sudah dianggap sebagai kebutuhan diri. Hingga pada akhirnya kebutuhan menulis hampir sama, kalau tidak betul-betul sama, dengan kebutuhan akan makan dan minum. Tanpa tulisan, matilah. Begitulah kira-kira. Apalagi aktivitas menulis, saat ini, tidaklah sesulit dulu-dulu. Adanya gadget, PC dan laptop semakin mempermudah aktivitas menulis. Bahkan, barangkali, sudah sangat kurang, atau sudah nyaris punah, penulis menuangkan ide-idenya di atas kertas.

Sudah barang tentu, menulis bukanlah sesuatu yang mudah pada awalnya. Tidak segampang membaca atau berbincang dengan orang. Karena menulis memiliki kaidah-kaidah umum yang telah menjadi standar. Agar tulisan yang dihasilkan, sudah barang tentu, idealnya, bukan untuk dikonsumsi sendiri oleh penulisnya, tapi lebih bagusnya para pembaca yang dapat memetik makna dan manfaatnya. Apalagi kalau tulisan itu bisa menjadi viral, bisa-bisa melahirkan

Bagi saya menulis adalah salah satu siklus penting dalam kehidupan nyata. Manakala tidak menulis dalam waktu tertentu, berarti akan terjadi kepincangan, terjadi missing. Setiap manusia, secara umum, memiliki fakultas diri yang sama. Tentu pula dengan aktivitas tertentu yang menyertainya. 

Telinga untuk mendengar, mata untuk melihat dan membaca, akal fikiran untuk menimbang, hati atau jiwa untuk bertafakkur. Dan segenap fakultas itu dipergunakan dalam interaksi dengan alam sekitar terutama dengan manusia lainnya, maka berlangsunglah diskusi. Itulah siklus inderawi yang berlangsung dari waktu ke waktu. Apakah itu sudah cukup? Belum


Bagi saya, dan barangkali oleh sedikit orang, siklus itu baru paripurna atau lengkap ketika siklus itu disertai dengan aktivitas menulis. Kesemua aktivitas di atas, kalau boleh disederhanakan merupakan input bagi jiwa dan raga, sementara outputnya adalah dengan menulis. Menulis akan melengkapi siklus, yang pada dasarnya  dan pada akhirnya menulis itu sendiri bisa menjadi input sekaligus, karena dengan menulis justru akan memperkaya jiwa bahkan membuat raga menjadi lebih sehat. Sampai-sampai boleh dikatakan bahwa menulis adalah merupakan suatu terapi. 


Alangkah naif dan ruginya, kalau kita tidak menulis padahal sudah terlalu banyak yang dilalui dan dialami yang tidak dipahatkan dalam bentuk tulisan. Apalagi kalau Kita sudah banyak membaca buku hingga menjalani pendidikan tinggi dengan seabrek gelar akademis, sudah banyak berdiskusi segala macam tema dengan banyak pihak, sudah banyak melakukan perenungan dan seterusnya. Tapi pengalaman dan kesan hilang begitu saja. 


Jadi aktivitas menulis mesti selalu disandingkan dengan aktivitas membaca, menilai, merenung, berdiskusi.  


Hasil gambar untuk pentingnya menulis

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ramadang

Namanya Ramadang. Begitu yang tertulis di akta kelahiran dan ijazahnya. Biasa dipanggil Andang saja, baik oleh orang tuanya ...