Zaman
Berdiri mematung di tepi pantai.
Di kaki langit. Tiada pohon, bakau atau kelapa. Karang yang kukuh pun tiada.
Benar-benar yang tampak hanya laut yang tak berbatas ke depan. Yang terlihat
hanya langit menjulang tak terhingga ke atas.
Lelaki tua paruh baya itu terus
saja mematung. Kakinya basah dipukul ombak berkali-kali. Ia tidak peduli celana
jeans panjangnya basah. Serangan angin bertubi-tubi ia tidak pedulikan lagi.
Jaket kulit kesukaannya terkadang bergerak-gerak, sengaja ia tidak mengancingnya.
Seakan-akan ia ingin berkata masuklah engkau angin kedalam diriku. Isilah
badanku ini. Rambutnya pun bergerak-gerak tak tentu arah. Jelas terlihat rambut
putihnya juga ikut irama. Belum putih semua memang. Namun nampak sudah hampir
setengah rambutnya mulai berubah warna.
Kedua tangannya ia tumpukan di
kedua kantong celana depannya. Sesekali ia tarik tangan kanannya memengang
kepalanya, menopang dagunya, menggaruk-garuk pipinya yang tidak gatal. Di saat
yang lain, ia bersedekap. Matanya mengalahkan teropong. Pandangannya menembus
langit dan ujung laut, menerjang dalamnya laut yang gelap.
Pikir dan segenap fakultas
batinnya membaur. Terpilin-pilin rasanya. Kakinya memang berpijak di atas pasir
yang basah. Tanpa gerak. Namun dirinya terasa bermain-main diantara
waktu-waktu, diantara zaman-zaman dengan ciri khasnya masing-masing.
Bukankah empat puluh tahun lalu,
saya juga bermain-main di tempat ini. Ya, di pantai ini, tempat yang kurang lebih sama. Ada penandanya.
Sebuah pohon asam besar menjulang di balik punggungnya. Pohon itu memang kian
besar. Seperti dirinya kini makin besar pula.
Tapi empat puluh tahun itu masih serasa kemarin. Mau pakai penanggalan
masehi atau hijria pun, kurang lebih empat puluh tahun sudah ia kembali ke
pantai yang sama.
Betapa banyak cerita dalam kurun
waktu itu. Tapi semuanya seakan hilang.
Ia tidak punya bukti otentik keberadaannya di pantai yang sama. Ia hanya bisa
menuliskan kisah-kisahnya dulu, bukan lagi diatas kertas dengan pena, tapi
melalui tarian jari-jemarinya diatas tuts keabord laptop atau gadget.
Kalau saja ia tidak ikut-ikutan
perkembangan zaman. Tentulah ia akan menuliskan kisahnya diatas kertas putih,
seperti dulu ketika masih mahasiswa, ia sering menorehkan keluh kesah hidupnya
yang tak terperikan di secarik kertas kecil
bergaris-garis, buku diari bersampul tebal. Tapi zaman kan sudah berubah, berkat
temuan-temuan teknologi yang mengguncang dunia.
Sudah beberapa kisahnya ia tuliskan dengan petikan tuts, yang tidak
sempat ia rekam di dalam diarinya.
Tapi ada beda yang begitu terasa.
Menulis diatas secara kertas, terasa lebih indah dan lebih jujur. Ia ingat
betul bagaimana ia terkenang dengan tulisan-tulisan indah Soekarno yang mirip
lukisan indah, yang sengaja diselipkan dalam buku Di Bawah Bendera Revolusi.
Hampir tak ada coretan di tulisan itu.
Menulis diatas tuts sekarang ini,
pikirnya, bisa melahirkan ketidakjujuran pada diri. Betapa tidak, begitu
mudahnya menekan delete dan backspace lantas mengganti kata-kata
yang lebih marketable. Boleh jadi
sudah kata yang ketujuh kali. Itu baru kata. Kalimat pun bisa diganti. Bahkan
karya orang lain pun bisa di copy paste.
Tinggal ganti nama, tanggal, lokasi dan sebagainya. Inikah zaman digital
bisnis. Zaman yang gila. Apakah zaman dulu lebih baik dari hari ini?. Itulah sejatinya
yang mengganggu pikiran lelaki paruh baya itu.
Facebook, twiteer, wa dan lain
sebagainya, kini, semestinya kian mengakrabkan
umat manusia. Namun apa jadinya saat ini, melalui medium-medium itu
pulalah terjadi perdebatan hingga permusuhan massif. Yang jauh kian mendekat, tapi yang dekat
menjadi jauh. Manis tapi ada
pahit-pahitnya. Semut di seberang laut terlihat, gajah di pelupuk mata tak
kentara.
Lelaki itu pun menutup matanya
dalam-dalam. Bagaimana dengan zaman yang silih berganti ini. Apakah zaman
bergerak menjadi lebih baik atau sebaliknya, atau memang tidak ada pola
pergerakannya. Napasnya memburu, tapi sedikit demi sedikit mulai teratur.
Napasnya ia tarik teratur, ditahan sejenak, ia lepaskan sambil membuka matanya
perlahan-lahan : Dunia akan lebih baik, dunia akan menuju pada kesempurnaan,
zaman tidak akan hilang oleh kiamat sebelum tegaknya keadilan seadil-adilnya di
muka bumi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar