Kamis, 22 Februari 2018

Zaman



Zaman

Berdiri mematung di tepi pantai. Di kaki langit. Tiada pohon, bakau atau kelapa. Karang yang kukuh pun tiada. Benar-benar yang tampak hanya laut yang tak berbatas ke depan. Yang terlihat hanya langit menjulang tak terhingga ke atas.

Lelaki tua paruh baya itu terus saja mematung. Kakinya basah dipukul ombak berkali-kali. Ia tidak peduli celana jeans panjangnya basah. Serangan angin bertubi-tubi ia tidak pedulikan lagi. Jaket kulit kesukaannya terkadang bergerak-gerak, sengaja ia tidak mengancingnya. Seakan-akan ia ingin berkata masuklah engkau angin kedalam diriku. Isilah badanku ini. Rambutnya pun bergerak-gerak tak tentu arah. Jelas terlihat rambut putihnya juga ikut irama. Belum putih semua memang. Namun nampak sudah hampir setengah rambutnya mulai berubah warna.

Kedua tangannya ia tumpukan di kedua kantong celana depannya. Sesekali ia tarik tangan kanannya memengang kepalanya, menopang dagunya, menggaruk-garuk pipinya yang tidak gatal. Di saat yang lain, ia bersedekap. Matanya mengalahkan teropong. Pandangannya menembus langit dan ujung laut, menerjang dalamnya laut yang gelap.

Pikir dan segenap fakultas batinnya membaur. Terpilin-pilin rasanya. Kakinya memang berpijak di atas pasir yang basah. Tanpa gerak. Namun dirinya terasa bermain-main diantara waktu-waktu, diantara zaman-zaman dengan ciri khasnya masing-masing.

Bukankah empat puluh tahun lalu, saya juga bermain-main di tempat ini. Ya, di pantai ini, tempat  yang kurang lebih sama. Ada penandanya. Sebuah pohon asam besar menjulang di balik punggungnya. Pohon itu memang kian besar. Seperti dirinya kini makin besar pula.  Tapi empat puluh tahun itu masih serasa kemarin. Mau pakai penanggalan masehi atau hijria pun, kurang lebih empat puluh tahun sudah ia kembali ke pantai yang sama.

Betapa banyak cerita dalam kurun waktu  itu. Tapi semuanya seakan hilang. Ia tidak punya bukti otentik keberadaannya di pantai yang sama. Ia hanya bisa menuliskan kisah-kisahnya dulu, bukan lagi diatas kertas dengan pena, tapi melalui tarian jari-jemarinya diatas tuts keabord laptop atau  gadget.

Kalau saja ia tidak ikut-ikutan perkembangan zaman. Tentulah ia akan menuliskan kisahnya diatas kertas putih, seperti dulu ketika masih mahasiswa, ia sering menorehkan keluh kesah hidupnya yang tak  terperikan di secarik kertas kecil bergaris-garis, buku diari bersampul tebal.  Tapi zaman kan sudah berubah, berkat temuan-temuan teknologi yang mengguncang dunia.  Sudah beberapa kisahnya ia tuliskan dengan petikan tuts, yang tidak sempat ia rekam di dalam diarinya.

Tapi ada beda yang begitu terasa. Menulis diatas secara kertas, terasa lebih indah dan lebih jujur. Ia ingat betul bagaimana ia terkenang dengan tulisan-tulisan indah Soekarno yang mirip lukisan indah, yang sengaja diselipkan dalam buku Di Bawah Bendera Revolusi. Hampir tak ada coretan di tulisan itu.

Menulis diatas tuts sekarang ini, pikirnya, bisa melahirkan ketidakjujuran pada diri. Betapa tidak, begitu mudahnya menekan delete dan backspace lantas mengganti kata-kata yang lebih marketable. Boleh jadi sudah kata yang ketujuh kali. Itu baru kata. Kalimat pun bisa diganti. Bahkan karya orang lain pun bisa di copy paste. Tinggal ganti nama, tanggal, lokasi dan sebagainya. Inikah zaman digital bisnis. Zaman yang gila. Apakah zaman dulu lebih baik dari hari ini?. Itulah sejatinya yang mengganggu pikiran lelaki paruh baya itu.

Facebook, twiteer, wa dan lain sebagainya, kini, semestinya kian mengakrabkan  umat manusia. Namun apa jadinya saat ini, melalui medium-medium itu pulalah terjadi perdebatan hingga permusuhan massif.  Yang jauh kian mendekat, tapi yang dekat menjadi jauh.  Manis tapi ada pahit-pahitnya. Semut di seberang laut terlihat, gajah di pelupuk mata tak kentara.

Lelaki itu pun menutup matanya dalam-dalam. Bagaimana dengan zaman yang silih berganti ini. Apakah zaman bergerak menjadi lebih baik atau sebaliknya, atau memang tidak ada pola pergerakannya. Napasnya memburu, tapi sedikit demi sedikit mulai teratur. Napasnya ia tarik teratur, ditahan sejenak, ia lepaskan sambil membuka matanya perlahan-lahan : Dunia akan lebih baik, dunia akan menuju pada kesempurnaan, zaman tidak akan hilang oleh kiamat sebelum tegaknya keadilan seadil-adilnya di muka bumi.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ramadang

Namanya Ramadang. Begitu yang tertulis di akta kelahiran dan ijazahnya. Biasa dipanggil Andang saja, baik oleh orang tuanya ...