Senin, 26 Februari 2018

Hirarki



Engkaulah hirarki
Dari zaman ke zaman mestilah ada
Tanpa mengenalmu bimbanglah
Tanpa mengetahuimu buntulah
Tanpa membacamu dungulah
Tanpa mencernamu sakitlah
Tanpa merasamu gilalah
Tanpa melihatmu butalah
Tanpa mendoamu sia-sialah
Tanpa menggandengmu terjatulah
Tanpa mengikutimu tersesatlah
Tanpa mencarimu terbuanglah
Tanpa memenuhimu habislah
Tanpa merenungkanmu dangkallah
Tanpa memujimu malulah
Tanpa memburumu terhempaslah
Tanpa mengandalkanmu sombonglah
Tanpa menemuimu sendirilah
Tanpa perkenanmu gelaplah
Tanpa pengakuanmu tersingkirlah
Tanpa izinmu terjungkallah

Engkaulah obat dari segala sakit, pilu dan derita
Engkaulah penawar dari segala hilangnya rasa

Tanpa dikau apalah arti
Tanpa dikau langit tak dikenal
Tanpa dikau kering kerongtanglah
Tanpa dikau kosonglah
Tanpa dikau hampalah segenap
Tanpa dikau hancur leburlah semua
Tanpa dikau enyahlah segala
Tanpa dikau hilanglah serta merta
Tanpa dikau matilah yang bernyawa
Tanpa dikau tamatlah yang bermula
Tanpa dikau bahkan kiamatlah

Makassar di Penghujung Malam, 26-02-2018

Sabtu, 24 Februari 2018

Kelahiran



Kau lempar aku dalam tangis
Terhampas ke bumi, telanjang
Dingin rasanya, kurindu kehangatan
Panas kiranya, kurindu kelembutan
Lapar rasanya kumau usapan
Dahaga rasanya, kuingin siraman
Dunia kulakoni, rasa tak sanggup menjalani
Betapa setitik diri ini di tengah milyaran manusia-Mu
Apa guna rasa yang silih berganti menemui
Sama saja
Menyelemi makna di samudra terkatung-katung
Ambil saja aku, pintaku mengetuk-ngetuk
Atau kuhabiskan saja waktuku seadanya
Toh diriku tak pernah  merasa ingin ke dunia fana ini
Atau aku sudah begitu alpa
Alam  yang sangat dulu dan purba dan  jauh tak terasa lagi
Sudah begitu tersesat aku di rimba fana ini
Bagaimana aku mengingat syahadat itu lagi


Kamis, 22 Februari 2018

Zaman



Zaman

Berdiri mematung di tepi pantai. Di kaki langit. Tiada pohon, bakau atau kelapa. Karang yang kukuh pun tiada. Benar-benar yang tampak hanya laut yang tak berbatas ke depan. Yang terlihat hanya langit menjulang tak terhingga ke atas.

Lelaki tua paruh baya itu terus saja mematung. Kakinya basah dipukul ombak berkali-kali. Ia tidak peduli celana jeans panjangnya basah. Serangan angin bertubi-tubi ia tidak pedulikan lagi. Jaket kulit kesukaannya terkadang bergerak-gerak, sengaja ia tidak mengancingnya. Seakan-akan ia ingin berkata masuklah engkau angin kedalam diriku. Isilah badanku ini. Rambutnya pun bergerak-gerak tak tentu arah. Jelas terlihat rambut putihnya juga ikut irama. Belum putih semua memang. Namun nampak sudah hampir setengah rambutnya mulai berubah warna.

Kedua tangannya ia tumpukan di kedua kantong celana depannya. Sesekali ia tarik tangan kanannya memengang kepalanya, menopang dagunya, menggaruk-garuk pipinya yang tidak gatal. Di saat yang lain, ia bersedekap. Matanya mengalahkan teropong. Pandangannya menembus langit dan ujung laut, menerjang dalamnya laut yang gelap.

Pikir dan segenap fakultas batinnya membaur. Terpilin-pilin rasanya. Kakinya memang berpijak di atas pasir yang basah. Tanpa gerak. Namun dirinya terasa bermain-main diantara waktu-waktu, diantara zaman-zaman dengan ciri khasnya masing-masing.

Bukankah empat puluh tahun lalu, saya juga bermain-main di tempat ini. Ya, di pantai ini, tempat  yang kurang lebih sama. Ada penandanya. Sebuah pohon asam besar menjulang di balik punggungnya. Pohon itu memang kian besar. Seperti dirinya kini makin besar pula.  Tapi empat puluh tahun itu masih serasa kemarin. Mau pakai penanggalan masehi atau hijria pun, kurang lebih empat puluh tahun sudah ia kembali ke pantai yang sama.

Betapa banyak cerita dalam kurun waktu  itu. Tapi semuanya seakan hilang. Ia tidak punya bukti otentik keberadaannya di pantai yang sama. Ia hanya bisa menuliskan kisah-kisahnya dulu, bukan lagi diatas kertas dengan pena, tapi melalui tarian jari-jemarinya diatas tuts keabord laptop atau  gadget.

Kalau saja ia tidak ikut-ikutan perkembangan zaman. Tentulah ia akan menuliskan kisahnya diatas kertas putih, seperti dulu ketika masih mahasiswa, ia sering menorehkan keluh kesah hidupnya yang tak  terperikan di secarik kertas kecil bergaris-garis, buku diari bersampul tebal.  Tapi zaman kan sudah berubah, berkat temuan-temuan teknologi yang mengguncang dunia.  Sudah beberapa kisahnya ia tuliskan dengan petikan tuts, yang tidak sempat ia rekam di dalam diarinya.

Tapi ada beda yang begitu terasa. Menulis diatas secara kertas, terasa lebih indah dan lebih jujur. Ia ingat betul bagaimana ia terkenang dengan tulisan-tulisan indah Soekarno yang mirip lukisan indah, yang sengaja diselipkan dalam buku Di Bawah Bendera Revolusi. Hampir tak ada coretan di tulisan itu.

Menulis diatas tuts sekarang ini, pikirnya, bisa melahirkan ketidakjujuran pada diri. Betapa tidak, begitu mudahnya menekan delete dan backspace lantas mengganti kata-kata yang lebih marketable. Boleh jadi sudah kata yang ketujuh kali. Itu baru kata. Kalimat pun bisa diganti. Bahkan karya orang lain pun bisa di copy paste. Tinggal ganti nama, tanggal, lokasi dan sebagainya. Inikah zaman digital bisnis. Zaman yang gila. Apakah zaman dulu lebih baik dari hari ini?. Itulah sejatinya yang mengganggu pikiran lelaki paruh baya itu.

Facebook, twiteer, wa dan lain sebagainya, kini, semestinya kian mengakrabkan  umat manusia. Namun apa jadinya saat ini, melalui medium-medium itu pulalah terjadi perdebatan hingga permusuhan massif.  Yang jauh kian mendekat, tapi yang dekat menjadi jauh.  Manis tapi ada pahit-pahitnya. Semut di seberang laut terlihat, gajah di pelupuk mata tak kentara.

Lelaki itu pun menutup matanya dalam-dalam. Bagaimana dengan zaman yang silih berganti ini. Apakah zaman bergerak menjadi lebih baik atau sebaliknya, atau memang tidak ada pola pergerakannya. Napasnya memburu, tapi sedikit demi sedikit mulai teratur. Napasnya ia tarik teratur, ditahan sejenak, ia lepaskan sambil membuka matanya perlahan-lahan : Dunia akan lebih baik, dunia akan menuju pada kesempurnaan, zaman tidak akan hilang oleh kiamat sebelum tegaknya keadilan seadil-adilnya di muka bumi.


Kesalahpahaman Mandar dan Bugis



Kesalahpahaman Mandar dan Bugis

Peristiwa ini terjadi di pertengahan tahun 1990-an. Sebuah kisah nyata. Berlangsung di sebuah kota yang sudah tergolong metropolitan, masih Ujungpandang namanya, tahun itu masih  1994, karena perubahan namanya menjadi Kota Makassar baru terjadi ketika Habibie menjadi presiden, 1998. Makassar menjadi sebuah kawasan ramai sekaligus penuh harapan yang banyak mempertemukan orang-orang dari berbagai daerah, bukan saja dari kawasan Indonesia bagian timur, juga dari seantero indonesia bahkan ada dari Malaysia. Bisalah dibayangkan, betapa banyak perbedaan yang bersinggungan di kota ini. Dari segi bahasa dan suku begitu beragam. Ada yang dari pelosok dusun-dusun di kaki gunung atau dari kampung pesisir yang terisolasi. Apalagi dari segi pemahaman dan sikap keberagamaan, betul-betul tersaji mulai dari yang biasa-biasa saja hingga yang “aneh-aneh.” Sungguh sebuah jual beli sosial budaya yang hangat dan terkadang sangat lucu.

Satu dari sekian banyak pertemuan unik itu terjadi di sebuah kampus ternama di  kota ini, Unhas.  Walaupun belakangan, perguruan tinggi ini tidak bisa juga lepas dari jeratan bisnis pendidikan. Perkenalan antara dua orang mahasiswa baru yang masing-masing sangat haus akan persahatan baru. Salah satunya saya kenal betul orangnya. Cerita ini pun adalah penuturan langsung darinya. Jadi kisah ini masuk kualifikasi sahih seribu persen. Ia seorang calon filosof muda dan pembaca doa yang menggetarkan sekaligus seorang penulis berbakat. Di kaki gunung adalah kampung halamannya. Mukimnya lebih dekat dengan langit. Itu juga lah mungkin yang membuatnya sangat spritualis bahkan belakangan ini,  ia sering dijuluki sang sufi. Bukan maksud menyombongkan diri, menurutnya, kakek-kakeknya lah yang melantik para raja daerahnya dulu. Ia juga banyak mengetahui kearifan atau pesan-pesan leluhur Bugis. Yang lebih menarik saya  dengar adalah prediksi-prediksi masa depan yang dinubuatkan oleh para leluhurnya. Paling heboh ketika ia mengatakan bahwa suatu saat indonesia ini akan dipimpin oleh presiden keturunan China-Tionghoa. Tapi, tak eloklah dilanjutkan soal  terakhir ini, nanti dikiranya saya ini seorang politisi atau timses tertentu yang mengarah-arahkan pada pilihan tertentu pula.

Bagaimana bisa terjadi miskomunikasi?. Saat itu sedang ramai-ramainya pendaftaran mahasiswa baru, yang  berhasil lulus setelah melewati tes. Ramai tapi sepi, karena sendiri. Begitulah mungkin situasinya. Terkadang terlihat bodoh sendiri memang kalau sedang menunggu, apalagi kalau kelamaan. Tentu, bagusnya mencari teman. Disamping bisa membunuh rasa senyap di keramaian, bisa juga saling kenal lebih jauh dan berbagi pengalaman.

Di tengah kesibukan itulah, terjadi perkenalan kilat. Keduanya sama-sama canggung yang sedari tadi menunggu proses pendaftaran yang bertele-tele. Sambil menjulurkan tangan kanannya ke arah sang filosof muda—teman akrabku itu, sang mahasiswa baru  itu berkata sambil tersenyum ramah “perkenalkan saya Mandar”, dengan spontan dan tak kalah ramahnya, sang filosof muda tersebut yang, barangkali, terkaget dari perenungan dalamnya menjawab lugas “ummm... saya Bugis”.

Senyap sesaat.  Masih dalam jabat tangan yang erat dan bergairah. Mandar berpirkir,  apakah ini kebetulan  atau sudah menjadi takdir, dua sosok bertemu yang namanya dipetik dari dua nama etnis besar yang ada di Sulawesi Selatan. Saat itu belum ada Sulawesi Barat, jadi Polmas, Majene dan Mamuju masih dalam lingkup Sulawesi Selatan. Untuk meyakinkan dirinya, Mandar kembali berujar “Memang nama saya Mandar, keluarga saya sudah lama tinggal di Jawa tapi aslinya keluarga saya dari Mandar, orang tua saya sengaja kasi nama saya Mandar, barangkali agar saya tetap ingat  asal usul keluarga besar saya”.   “Ohhh begituu..” sahut sang calon filosof. “Kalo begitu nama saya Dilang, saya memang orang bugis.” Keduanya lantas saling tertawa hampir terbahak-bahak, yang mengundang perhatian beberapa mata di sekelilingnya. Sebuah miskomunikasi yang lebih mengakrabkan.
( Free Writing Plus, Menulis untuk bahagia, Makassar, 04 Feb 2018)

Ramadang

Namanya Ramadang. Begitu yang tertulis di akta kelahiran dan ijazahnya. Biasa dipanggil Andang saja, baik oleh orang tuanya ...